Siswa QS

Siapa orang tua yang menginginkan anaknya gagal dalam hidup? Menjadi aib keluarga? Sering menguras kesabaran dan air mata orang tua, karena sulit diatur?

Kami yakin, 100% TIDAK ada orang tua yang mengharapkan anaknya seperti itu. Karena semua orang tua mencintai dan menginginkan yang terbaik untuk keberhasilan masa depan anak. Orang tua rela berkorban apapun demi melihat buah hatinya sukses dan membanggakan dirinya.


Namun, survey membuktikan banyak anak yang tidak “merasa” dicintai kedua orang tua nya. Dengan berbagai alasan, kurangnya perhatian, faktor cemburu sesama saudara (pilih kasih), malu dengan kondisi ekonomi keluarga, dan sebagainya. Hal ini bedampak, anak  “merasa” dipaksa untuk bersekolah, bimbel dan kegiatan pengembangan diri lainnya. Mereka berontak, ingin protes karena tidak “merasa” dicintai orangtuanya, dengan melakukan aktivitas rutin menuntut ilmu tanpa maksud dan tujuan yang terarah. Mereka melakukannya hanya karena tidak ingin dimarahi ibu dan ayahnya saja. Al hasil, bukan prestasi yang dibuahkan dari proses tersebut, melainkan laporan kenakalan yang sudah mereka perbuat. Karena nak-anak mengisi aktivitas menuntut ilmu dengan bermain, bersenang-senang dengan teman-temannya.


Adapun pihak sekolah, mereka justru kewalahan menghadapinya. Karena beban dan tuntutan sekolah yang begitu besar dari kurikulum yang harus tuntas dan sebagainya. Sehingga pihak sekolah sulit melakukan “personal touch” kepada siswa-siswa tersebut.


Berawal dari keprihatinan tersebut, kami di Quantum Student, memandang kesuksesan seorang anak, sangat terkait dengan dukungan yang penuh dari pihak orang tua dan sekolah. Dan kami bantu menghubungkan antara anak, orang tua dan sekolah agar dapat bersinergi dengan baik. Di Quantum student, kami menjadikan siswa didik kami menjadi “SAKTI” (Smart, mAndiri dan berbaKTI kepada orang tua). Tidak hanya Smart yang kami kedepankan, karena faktanya banyak anak smart namun sangat disayangkan, kepribadian mereka sangat memprihatinkan. 


Dan dari hasil survey yang dilakukan peneliti dan praktisi kinesiologi khusus, Gordon Stokes (1929 - 2006) dan Daniel Whiteside, di Burbank, California (1976) terungkap bahwa TERNYATA kesulitan belajar yang dialami siswa berasal dari aspek psikologis dan emosional, sedangkan 20% sisanya lebih ke teknis skill belajar. Dari data tersebut, kami mendiferensiasikan Quantum Student dengan bimbel yang lainnya. Pertama dan satu-satunya di Indonesia. Bimbel yang memadukan keduanya, orang tua dan siswa sebagai subjek yang ingin diarahkan menjadi siswa yang unggul.


Analogi sederhana, jika seorang anak tidak dapat membaca, dengan diajarkan secara intensif dengan metode tertentu, dalam waktu 6 jam InsyaAlloh anak tersebut akan mampu membaca. Namun jika seorang anak memiliki karakter buruk, waktu 6 tahun sekalipun tak akan menjamin anak tersebut dapat menjadi anak yang diharapkan. Terlebih zaman yang anak kita lalui, bisa jadi lebih kejam daripada zaman saat ini. Banyak godaan yang mungkin lebih kuat untuk menjerumuskan anak kita dalam kubangan kehancuran. Tingkat persaingan pun kemungkinan lebih besar lebih kompetitif daripada zaman saat ini.


Sudah seberapa siapkah kita sebagai anak atau orang tua menyongsong zaman seperti itu??? Ingat, penyesalan selalu datang terakhir...
Jangan tunggu lagi, segera daftarkan diri anda atau anak anda bergabung dengan Quantum Student, songsong masa depan anda yang cemerlang.
Hubungi cabang terdekat kami...
“excellence kids, great parent”

No comments:

Post a Comment