Sunday, 5 July 2015

Komunikasi Efektif dengan Pasangan

Perselingkuhan kerap menjadi momok yangmenakutkan bagi setiap pasangan. Bermula dari perselisihan yang tak kunjung menemui titik temu. Bahkan jika intensitas tegangannya cukup tinggi akan berakhir dengan perceraian. Naudzubillah...
Mengapa hal pahit itu dapat terjadi pada pasangan suami istri? Banyak faktor, namun kali ini saya ingin mengangkatnya dari sisi komunikasi yang baik dengan pasangan suami istri.
“Saya tuh capek mengalah terus. Masa saya terus sih yang harus mengikuti dan mengikuti keinginan pasangan. Giliran saya kapan doooong??? *sambil menghiba kesal* 
(#emangnya berumah tangga itu lomba apah, ada yang menang ada yang kalah)



Familiar dengan statement diatas? 
Mengapa hal tersebut bisa muncul di permukaan? Sesungguhnya apa penyebabnya? Komunikasi seperti apa yang efektif untuk mengurangi permasalahan tersebut? Mari kita kupas bersama. 

Oh iya, materi ini adalah hasil bincang parenting Ramadhan, yang kemarin kebetulan dipandu oleh ibu Wiwit dari YKBH (Yayasan Kita dan Buah Hati), yang berlokasi di perumahan Taman Sari Persada Jatibening Bekasi. Saya sangat bersyukur karena sudah "diseret" oleh salah seorang pentolan YKBH yang enggan disebutkan orangnya. Seorang sosok bunda cerdas nan bersahaja yang sangat perduli dengan keluarga dan komunitasnya. Saya diajak untuk lebih jauh tau tentang parenting dan urusan domestik rumah tangga pada umumnya. Oke langsung saja yaa...




Pada saat seseorang memutuskan untuk menikah, pasti dong punya harapan, impian dan cita-cita terhadap pernikahannya, dari mulai masalah sifat yang menyenangkan pada diri pasangan, status ekonomi, sosial, keluarga dan sebagainya. Yang namanya harapan biasanya pasti yanng enak-enak dan bagus-bagus. Betul??



“Life is never flat” katanya si cantik Agnes Monika dalam iklan makanan ringan. Begitupula harapan, kadang tidak selalu sesuai dengan realitas. Ternyata eh ternyata, memang dari awal laki-laki dan wanita itu memang sudah berbeda, jadi jangan heran dalam menjalani bahtera rumah tangga menemukan riak gelombang yang tak jarang menimbulkan konflik. Karena Alloh memang menciptakan laki-laki dan wanita berbeda, mulai dari fisik pun psikisnya (karakter dan cara pandang). 

Jadi jangan pernah mengharapkan pasangan "harus" memiliki sifat dan karakter sama seperti kita. Pasangan yang kita nikahi itu ibarat rumah sudah jadi, akan sulit bagi kita jika "memaksakan" semua harus sesuai dengan selera kita. Berapa biaya untuk merenovasi sebuah rumah yang jadi, berapa lama waktu yang dibutuhkan, dlsb. Pada saat menikah usia pasangan sekitar 20-30 tahun, dapat dibayangkan betapa kokohnya karakter yang sudah dibangun dalam waktu sepajang itu. Pengalaman hidup, pola asuh orang tua serta lingkungan pembentuknya pasti berbeda dengan kita. Itulah mengapa dikatakan setiap orang memiliki keunikan yang berbeda satu sama lain.

Apabila ujug-ujug dalam waktu singkat kita meminta pasangan untuk berubah setelah menikah dengan kita, dalam hal ini siapa yang egois? Hellooo...
Atau jika dibalik, maukah dan mampukah kita merubah karakter yang sudah berakar dalam diri kita dalam waktu singkat dirubah menjadi sesuai apa yang diinginkan pasangan?? Bisa memang, namun semua itu perlu waktu, sayang...

Apa akibatnya apabila kita memaksa agar pasangan "memakai" kacamata yang biasa kita pakai? cepat atau lambat pasti akan menuai perselisihan. Dua buah isi kepala yang berbeda ketika disatukan, bukan untuk saling beradu, melainkan agar saling melengkapi satu sama lain. Kalaulah ada sikap dan sifat yang perlu dirubah, maka rubahlah. Namun yang perlu digaris bawahi adalah berubah dalam rangka perbaikan untuk meningkatkan ketaqwaan. Bukan diubah sesuai selera hawa nafsu kita sebagai manusia. Karena pada hakekatnya sebuah pernikahan yang SAMARA, barometernya adalah peningkatkan ketakwaan masing-masing pasangan.




Pada dasarnya laki-laki menikah lebih didorong oleh pemenuhan biologis, seperti ingin dilayani dari mulai makan, pakaian dan hasrat sexualnya dlsb. Laki-laki akan lebih nyaman dengan istri yang penurut, hal ini sesuai dengan sifat ke-qowam-an (kepemimpinan) suami. Berbeda halnya dengan wanita, wanita menikah lebih untuk memenuhi dorongan kebutuhan fisiologis, seperti ingin dicintai, dilindungi, dan sejenisnya. Meskipun pada wanita pun Alloh berikan ghorizatun-nau (naluri mempertahankan keturunan).

Tujuan menikah boleh beda, namun yang harus dipastikan komitmennya sama, jika tidak ingin menemui kendala dikemudian hari. Komitmen seperti apa? Setiap pasangan yang menikah harus memiliki niat yang sama untuk membentuk keluarga SAMARA, menikah sebagai  sarana ibadah, taat dan tunduk terhadap syariat.Terlebih untuk para istri Suami adalah tiket menuju surga. Nah, komitmen itu gak boleh beda!

Jadi tips komunikasi efektif untuk menghadapi suami (laki-laki), dianjurkan dengan pendekatan pelayanan tadi. Dilayani dulu apa yang menjadi kebutuhan suami, baru ungkapkan apa yang istri mau. Kalau istilah NLP "pacing leading". Namun juga terkadang seorang suami butuh istri sebagai partner, tidak harus konsisten penurut always. Adakalanya suami ingin memiliki teman yang dapat diajak tukar fikiran, bisa dibayangkan jika nurut terus, suami akan kehilangan gairahnya. Mungkin suami akan berfikir dia menikahi pembantu atau apa? #eh. Jadi disini pun, istri dituntut untuk cerdas, nyambung kalo diajak ngomong apa aja. Sebelum suami mencari sosok wanita lain yang enak diajak bicara.



Begitu pula jika ingin berkomunikasi dengan wanita, sangat dianjurkan dengan pendekatan psikologis. Rayu istri, gombal bin lebay ga apa-apa deh, sama istri mah aman karena sudah halalan thoyiban. Setelah istri dimanja pendengarannya, baru deh ungkapkan keinginan suami. InsyaAlloh lebih maknyuss. Bonusnya atmosfer keharmonisan keluarga pun semakin hangat.

Ketika masing-masing mengenali diri dan pasangan, InsyaAlloh terjalin pengertian dansaling menghargai satu sama lain. Tak akan ada lagi keluhan, ketika respon pasangan yang tidak sesuai yang kita inginkan, karena kita sudah kenal luar dalam. Tidak ada lagi statemen mengalah atau apalah...

Karena pasangan kita sejatinya hanyalah teman yang singgah menemani hidup kita di dunia yang singkat ini. Tak perlu lah buang energi yang mubajir hanya untuk merubah kebiasaan yang sepele. Nikmati dan syukuri jodoh yang telah Alloh amanahkan kepada kita.
  


2 comments:

  1. jadi harus saling mengerti dan memahami cara berkomunikasi ya. Seminar seprti ini harus juga di ikuti oleh para suami nih :)

    ReplyDelete
  2. Katanya semua hal yang brhubungan dengan sesama manusia itu bisa dikompromikan. Tapi ada beberapa orang yang "saklek", ngga mau berkompromi untuk hal-hal tertentu. Jadinya ya take it or leave it. Apalagi kalau durasi penyesuaian sifat pasangan dirasa terlalu lama. Mungkin memang tidak bisa untuk dikompromikan...

    ReplyDelete