Monday, 6 July 2015

Keterampilan Mendengar



Deadlocknya sebuah komunikasi banyak dipengaruhi kurangnya ketrampilan dalam mendengar. Tulisan ini menyambung dengan tema sebelumnya tentang komunikasi efektif denganpasangan. Sedikit dari pasangan yang memiliki keterampilan dalam mendengar dengan empatik. Kebanyakan dari kita kalaupun sikap tubuh sepertinya mendengar, namun di dalam kepala, banyak kalimat-kalimat yang tak terucap cendrung menilai atas dasar sudut pandang kita.
Tak heran apabila dimintai pendapat atau masukan, kalimat yang sudah tersusun di dalam kepala tadilah yang akan terlontar keluar melalui lisan. Aktivitas mendengar seperti ini bisa disebut dengan mendengar simpati. Ya, hanya sekedar simpati.

 
Memang apa sih bedanya simpati dengan empati?? Simpati itu salah satu provider besutan telkomsel. #eh salah. Simpati adalah upaya menunjukkan perasaan kita perduli kepada orang lain, namun masih dalam sudut pandang kita. Maksudnya?? Iyaa maksudnya kita mencoba menyamakan orang lain seperti diri kita. Terus bedanya empati apa? Hmm.. empati itu urutan angka setelah tiga. Hehehee... Empati itu, upaya menunjukkan perasaan perduli, dengan mmemposisikan diri kita menjadi orang tersebut. Contohnya gini, seorang suami yang ingin makanan spesial yang dibuat istrinya, sang istri mendengar dan bersedia memasak masakan spesial. Namun si istri memasak masakan favoritnya sendiri. Nah yang seperti ini namanya baru mendengat secara simpati. Kalau dia mendengar keinginan suami untuk dimasakan sesuatu yang diinginkan suami, itu baru namanya mendengar secara empati. Simpati dan emapati mirip secara penulisan, tapi maknanya jauh berbeda.

Semua orang ingin bicara, semua orang ingin didengar. Tapi hanya sedikit yang mau mendengar dan mau mencoba mengerti. Salahkah? Tidak salah! Namun apabila kita mengharapkan hasil yang maksimal dalam suatu hubungan, keterampilan mendengarlah yang akan lebih berhasil daripada keterampilan bicara. Terutama untuk kaum hawa, wuss jika di tanya satu, jawabnya bisa 10x lipat dari pertanyaannya. Hehehehee...

Saya jadi teringat lagu “yang ku mau” yang dibawakan Krisdayanti yang syairnya banyak mewakili perasaan pasangan yang ingin dimengerti, atau lebih tepatnya egois. #eh. Isi syairnya kurang lebih begini;
Yang ku mau ada dirimu
Tapi tak begini keadaannya
Yang ku mau selalu denganmu
     Jika Tuhan mau begini
     Rubahlah semua jadi yang ku mau
     Karena ku ingin
     Semua berjalan seperti yang ku mau
Jangan memaksakan ini
Jika memang bukan yang ini
Karena sesuatu yang peka
Buat kita jadi masalah

Ada yang aneh dengan syair lagu diatas? Lagu itu dinyanyikan jauh sebelum KD berpisah dengan Anang (eh, bener khan yaa?) dan lihat hasilnya, merekapun berpisah. Dari syair lagu tersebut jelas menggambarkan keinginan seorang istri yang ingin mengatur segala sesuatunya seperti yang dimau. Hingga “mencoba” mendikte Tuhan untuk merubah seperti apa yang diinginkannya. Syereemm yaa...

So, jika tidak ingin bernasib dengan lagu diatas, mari kita berlatih untuk memperbanyak mendengar daripada berbicara untuk mencapai komunikasi yang efektif dengan pasangan. Ajakan ini terutama untuk diri sendiri untuk mampu mengendalikan diri dan bersifat bijak. Egoiss.... ?? Go away....

1 comment:

  1. berlaku buat aku juga nih harus belajar mendengar :)

    ReplyDelete