Wednesday, 22 April 2015

Pengaruh Gaji Terhadap Motivasi Guru dalam Mengajar (II)



Motivasi intrinsik dan ekstrinsik sudah dibahas pada artikel sebelumnya. Untuk yang belum baca, silahkan klik disini.
Seorang guru yang memiliki motivasi yang tinggi, tentunya akan memberikan kompetensi serta kinerja terbaiknya dalam menjalankan profesinya sebagai guru. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor 16 Tahun 2007
tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Dijelaskan bahwa Standar Kompetensi Guru dikembangkan secara utuh dari 4 kompetensi utama, yaitu: (1) kompetensi pedagogik, (2) kepribadian, (3) sosial, dan (4) profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru. Guru yang baik diharapkan mampu memiliki keempat kompetensi tersebut secara utuh. (dokumen PMPTK, 2008)
       Fokus terhadap kompetensi pedagogik, lebih jauh dalam dokumen PMPTK (Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan) menjelaskan kompetensi pedagogik adalah kemampuan yang harus dimiliki guru berkenaan dengan mengenali karakteristik siswa dilihat dari berbagai aspek seperti moral, emosional, dan intelektual. Hal tersebut berimplikasi bahwa seorang guru harus mampu menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip belajar, karena siswa memiliki karakter, sifat, dan ketertarikan minat yang berbeda. Kewajiban guru diharapkan mampu mengarahkan keberagaman karakteristik siswa sesuai dengan tujuan yang diarahkan dari Departemen Pendidikan Nasional, yaitu meningkatkan kecerdasan siswa sekaligus meningkatkan moral siswa.
Pendidikan yang bermutu akan melahirkan sumber daya manusia yang berkompeten. Negara yang kuat ditopang oleh sumber daya manusia yang berkompeten. Indonesia sebagai negara berkembang, sangat membutuhkan sumber daya manusia berkompeten dalam jumlah banyak. Siswa-siswi yang saat ini duduk dibangku sekolah lah yang akan menjadi sumber daya manusia sekaligus generasi bangsa akan datang, yang akan mengantarkan negara Indonesia menjadi negara maju. Sehingga pemerintah sangat berkepentingan untuk meningkatkan kualitas pendidikan generasi bangsa ini.
       Departemen Pendidikan Nasional terus berbenah untuk meningkatkan mutu pendidikan, mengingat peringkat Indonesia yang masih rendah dalam kualitas sumber daya manusia. Keterpurukan mutu pendidikan di Indonesia-dinyatakan oleh United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO)-Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurus bidang pendidikan. Menurut Badan PBB itu, peringkat Indonesia dalam bidang pendidikan pada tahun 2007 adalah 62 di antara 130 negara di dunia. (http://www.infodiknas.com/)
       Ketika orang mempersoalkan dunia pendidikan, figur guru pasti terlibat dalam pembicaraan, terutama yang menyangkut masalah pendidikan formal di sekolah. Guru adalah pemeran utama dalam pendidikan sekolah, karena guru lah yang berinteraksi langsung dengan siswa. Frekuensi tatap muka yang sering, menjadikan sosok guru kerap dilihat dan dicontoh siswa. Peran dan kinerja guru dapat dirasakan oleh siswa, dan kita sebagai orang ketiga dapat menilai peran dan kinerja guru dengan hasil belajar siswa, berupa nilai akademik dan berubahnya sikap menjadi lebih baik.
       Pengaruh negatif yang terjadi pada anak sekolah, salah satunya dapat ditimbulkan karena perbuatan guru yang menangani langsung proses pendidikan. Hal ini dipicu antara lain karena kesulitan ekonomi yang dialami oleh guru, sehingga mempengaruhi perhatiannya terhadap siswanya. Guru sering tidak masuk, akibatnya anak-anak didik terlantar, kelas kosong, sehingga siswa melakukan kesenangannya sendiri. Bahkan sering terjadi guru marah kepada siswanya, sebagai akibat kenakalan yang dilakukan siswa pada saat jam kosong. (Sudarsono, 1993). Guru yang tidak maksimal menjalankan peranannya, akan menimbulkan dampak, salah satunya adalah perilaku amoral yang dilakukan siswa.
       Kenakalan siswa yang kurang mendapat perhatian serius lama kelamaan semakin meluas. Semula kenakalan dilakukan di sekolah, kini kenakalan meluas ke luar sekolah. Kenakalan pelajar pun muncul dengan berbagai ragam bentuknya. Peristiwa yang masih hangat terjadi, adalah peristiwa perampasan (pembegalan) motor yang dilakukan oleh dua orang pelajar SMP.Diberitakan, dua pelajar SMP yakni Apw (13) dan Ars (13) ditangkap warga seusai gagal membegal motor seorang tukang ojek Suheri (54) di kawasan Perumahan Telaga Golf Cluster Scotland, Depok, Kamis (12/3) sekitar pukul 16.30 WIB”. (http://Republika.co.id)
       Menurut  Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto, menanggapi maraknya kasus begal yang melibatkan pelajar menjadi pertanda, bahwa telah terjadi kegagalan dalam internalisasi nilai keadaban kepada peserta didik. "Dulu, guru bukan hanya menjadi sumber ilmu, tetapi juga menjadi sumber nilai." kata komisioner penanggung jawab bidang pendidikan itu. (http://Republika.co.id)
       Tidak hanya kasus begal yang dilakukan pelajar, tauran pelajar pun tak kalah memprihatinkan.  Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tawuran antar pelajar sering terjadi. Data di Jakarta misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat sampai tiga perkelahian di tiga tempat sekaligus. (http://www.kpai.go.id/

***
Sepertinya belum tuntas, yukk... lanjut ke bagian 3

No comments:

Post a Comment