Wednesday, 15 April 2015

Pengaruh Gaji Terhadap Motivasi Guru dalam Mengajar (I)



       Sebuah ungkapan dari pepatah kuno latin: “non scholae sad vitea discimus” yang artinya, “aku belajar bukan untuk mengejar angka (10-100), tapi untuk mempersiapkan hidup atau masa depanku.” Ungkapan ini berasal dari Ceneka, seorang filsuf, pujangga yang hidup pada abad ke 3 sebelum masehi (http://id.wikipedia.org/). Dari ungkapan ini, setidaknya dapat menggambarkan
peran penting guru di sekolah. Peran guru disini tidak lagi dilihat hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik yang mempersiapkan siswanya untuk meraih masa depan.
       Pengajar dan pendidik adalah istilah yang saling berhubungan, meski memiliki makna yang berbeda satu sama lain. Guru sebagai pengajar, berperan hanya menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswanya, hanya sekedar media transfer informasi. Sedangkan guru sebagai pendidik, lebih kepada kemampuan menjadi teladan dalam bersikap, yang tercermin dari kepribadiannya sehari-hari saat mengajar. Sehingga siswa mengetahui sikap seperti apa yang harus dimiliki dan berguna untuk bekal masa depannya.
       Guru yang berperan sebagai pendidik, sudah tentu sebagai pengajar. Namun guru yang menjalankan perannya hanya sebagai pengajar, belum tent u menjadi pendidik. Idealnya, seorang guru mampu menjadi pengajar sekaligus menjadi pendidik. Sehingga siswa tidak hanya mendapatkan transfer informasi, melainkan juga mendapatkan sosok guru yang mampu dan layak dicontoh sikap dan tingkah lakunya.
       Seseorang melakukan atau meninggalkan sesuatu pekerjaan didasari oleh tujuan yang hendak dicapai. Begitu pula bagi seseorang yang memilih profesi menjadi seorang guru. Dorongan yang akan memberikan kekuatan seseorang untuk memilih atau meninggalkan profesi guru, dinamakan motivasi. Menurut Abraham Maslow (dalam B.R Hergenhahn, 2009) : pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid, yaitu:
a.       Kebutuhan fisiologis, seperti makan, minum, perumahan, oksigen, dll. Apabila kebutuhan fisiologis relatif sudah terpuaskan, maka muncul kebutuhan yang kedua, yaitu:
b.      Kebutuhan akan rasa aman. seperti perlindungan dari bahaya kecelakaan kerja, jaminan akan kelangsungan pekerjaannya dan jaminan akan hari tuanya pada saat mereka tidak lagi bekerja. Jika kebutuhan fisiologis dan rasa aman telah terpuaskan secara minimal, maka akan muncul kebutuhan sosial
c.       Kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan untuk persahabatan. Dalam organisasi akan berkaitan dengan kebutuhan akan adanya kelompok kerja yang kompak, supervisi yang baik, rekreasi bersama dan sebagainya.
d.      Kebutuhan ingin dihormati, dihargai atas prestasinya, pengakuan atas kemampuan dan keahliannya serta efektifitas kerja seseorang.
e.       Aktualisasi diri merupakan hirarki kebutuhan dari Maslow yang paling tinggi.
       Teori motivasi dari Maslow ini dapat menjelaskan, mengapa guru yang gajinya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, membuat motivasi dalam mengajar menjadi kurang. Bagaimana mungkin seorang guru mampu mengatualisasikan diri dengan maksimal, jika kebutuhan fisiologis yang dasar pun belum terpenuhi.
       Setelah kebutuhan pribadi terpenuhi, maka kebutuhan sosial pun akan muncul. Kebutuhan sosial pada diri seseorang lebih detil dikemukakan oleh Erich Fromm. Menurut Fromm (dalam Feist dan Feist, 2010), manusia memiliki kebutuhan keterhubungan (relatedness), yaitu dorongan perasaan untuk dapat berhubungan dengan orang lain, menjadi bagian dari sesuatu. Hubungan yang melahirkan tanggungjawab, penghargaan dan pengertian dari orang lain. Salah satu cara seseorang untuk memenuhi kebutuhan keterhubungan (relatedness) ini, ialah dengan menjadi guru. Seorang guru dapat menjadi suatu bagian dari institusi pendidikan, yaitu sekolah. Melahirkan hubungan dengan siswa, orang tua siswa, rekan sejawat dan masyarakat sekitar. Profesi guru merupakan profesi yang cukup dihormati dalam masyarakat, yang memiliki tanggungjawab yang cukup besar sebagai pencetak generasi bangsa. 
       Sejalan dengan Fromm, Alferd Adler pun mengemukakan teorinya tentang minat sosialnya (social interest), Menurut Adler (dalam Feist dan Feist, 2010) orang sehat, perduli terhadap orang lain, dan mempunyai tujuan menjadi sukses demi kebahagiaan semua umat manusia. Adler menyebut barometer normalitas sebagai penilaian keberhargaan, untuk menentukan kemanfaatan hidup seseorang. Menjadi bagian kesuksesan kolektif  banyak orang, merupakan kebutuhan alami dalam individu yang harus dipenuhi. Dorongan yang berasal dari dalam diri itulah yang disebut dengan motivasi instrinsik (intrinsic) “Termasuk berperan aktif dalam berkontribusi membangun generasi”.   (Hayes, 2004, p. 43 dalam Reese, 2010).
       Motivasi juga dapat berasal dari luar diri (extrinsic). “Motivasi ekstrinsik berhubungan dengan keuntungan materi dan jenjang karir yang menjanjikan.  Seperti memperoleh gaji, bonus keuntungan, waktu kerja yang singkat setiap harinya, mendapat liburan, dan suasana kerja yang menyenangkan”. (Challen, 2005 dalam reese, 2010). Motivasi ekstrinsik mampu memperbesar motivasi intrinsik seorang guru. 
***
Karena pembahasan ini cukup panjang, saya akan membaginya menjadi beberapa bagian. Yukk... dilanjut ke bagian II :)

No comments:

Post a Comment