Wednesday, 7 January 2015

Membangkitkan Semangat Belajar


Mengapa saat bermain game anak-anak sangat bersemangat, meski terkadang game nya memiliki tingkat kesulitan tinggi? Sangat berbeda ketika mereka diminta untuk belajar/sekolah, perintah belajar seolah berubah menjadi tumpukan karung beras yang dilempar dipunggung untuk dipindahkan ke suatu tempat. Rasanya beraaaattt....


Belajar dianggap beban, karena dalam prosesnya tidak menyenangkan. Banyak ketegangan dan ketakutan di sana.
Guru berubah menjadi hakim yang siap menjatuhkan hukuman, teman-teman di kelas berubah menjadi jaksa penuntut, yang berkeinginan menjatuhkan hukuman seberat-beratnya terhadap terdakwa. Tak cukup di sekolah, di rumah pun orang tua bukannya menjadi pengacara yang mensuport dan membela, lebih hanya sebagai penonton. Mengerikan bukan?

Sebenarnya hal itu tak perlu terjadi, jika semua pihak terkait saling menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Hubungan positif  dan dinamis antara guru dan orangtua memungkinkan anak untuk belajar secara aktif. Sehingga anak ketika ke sekolah/belajar bukan lagi karena keterpaksaan, namun mereka sadar bahwa sekolah/belajar merupakan kebutuhan. Sebagai bekal masa depan.

Mereka akan enjoy dengan gaya belajar dengan ciri khas mereka, yang masing-masing anak bisa berbeda. Karena setiap anak tidak ada yang bodoh, ciptaan Alloh pasti istimewa. Tidak adil jika memvonis siswa bodoh hanya karena nilainya di bawah standar. Sebelum memvonis, apakah sudah ada upaya guru/orangtua menemukan keistimewaan anak? Jika belum, tugas orang tua/guru lah yang menemukan mutiara yang ada dalam diri anak. Sebab tiap anak akan berprestasi dan unggul dibidang yang memang menjadi minatnya. Motivator terbaik adalah diri sendiri, ketika anak mengetahui keunggulannya, dia akan mampu memotivasi dirinya sendiri.

Guru disekolah menciptakan atmosfer yang menyenangkan, dengan berbagai variasi teknik pembelajaran yang tidak membosankan, seperti berdiskusi, melakukan percobaan, bermain dan sebagaimya, namun tetap dalam kerangka belajar yang terarah kepada tujuan. Orang tua di rumah juga menunjukkan empatinya, tidak menonton TV saat anak belajar. Orang tua tetap menjaga spirit anaknya dengan motivasi positif. Serta teman-teman disekolah diciptakan agar berkompetisi secara positif, sebagai sparing partner.

No comments:

Post a Comment