Wednesday, 21 January 2015

Salah Pergaulan


http://www.santinabila.com/2015/01/salah-pergaulan.html
Di usianya yang ke 14 tahun ini, ibu merasa putra kesayangannya jauh berubah. Ya, semenjank menginjak kelas VII (kelas 2 SMP) Andi berubah. Ia terlalu asyik bergaul dengan teman-temannya. Diawal perubahan, Sang ayah hanya menenangkan ibu agar tidak terlalu sensitif. “Harap dimaklum, Andi kini sedang masa puber, sedang mencari identitas dirinya”.
Meski masih tetap di pantau, tapi ibu Andi hanya dapat mengumpulkan data saja, tak bisa berbuat banyak. Orang tua Andi kalah keras dengan Andi yang semakin menjadi-jadi.

Ibu merasa tidak lagi mengenal Andi, sosoknya berubah 180o. Bicaranya keras, tidak jarang membuat sudut mata ibu mengeluarkan butiran bening, setelah mendengar bentakan Andi. Ibu, bagi Andi kini hanya sebatas mesin ATM, yang bisa mengeluarkan uang. Karena Andi tidak berani meminta uang langsung ke ayahnya.  Belakangan diketahui, Andi sudah 3 bulan dilaporkan belum membayar uang sekolah. Padahal tiap tanggal 1, ayah selalu memberikan uang sekolah kepada Andi. Andi mengunakkan uang sekolah untuk senag-senang bersama genk nya. “Yaa... Alloh, apa yang terjadi dengan putra semata wayangku”, “kembalikan Andi ku yang dulu yaa Alloh... yang hormat kepada orang tua, jujur dan rajin ibadah” doa ibu dalam kepasrahan.

Pukul 22.00, rumah diketuk dengan keras. Ayah dan ibu langsung membuka pintu. Terkejutlah ia, melihat wajah dan tubuh Andi babak belur. Andi tersungkur jatuh di kedua kaki ibu. Ayah memapa dan membaringkan Andi ke tempat tidur, dan dengan sigap ibu membawa kompresan untuk membersihkan dan mengobati luka Andi. Setelah agak tenang, ayah bertanya pada Andi, apa sebenarnya yang sudah terjadi.

Dengan penyesalan yang dalam, dengan terbata-bata Andi bercerita. Bahwa selama ini dia ingin memiliki kumpulan sahabat, genk istilah anak mudanya yang disegani. Bergabunglah Andi dengan genk yang menurutnya disegani oleh teman-teman di sekolahnya. Namun apa boleh buat, Andi hanya dijadikan sapi perahan, di manfaatkan lebih tepatnya. Mereka sering kali memanfaatkan Andi untuk mentraktir ini itu untuk kesenangan mereka semua. Dengan alasan, setia kawan, persahabatan dan solidaritas, Andi akhirnya menuruti keinginan teman se genknya. Jika tidak ingin dikeluarkan dari genk tersebut.

Tiba-tiba suara Andi serak, karena menahan tangis, dengan terbata-bata andi mengakui kebodohan lainnya guna membela genk tersebut. Tanpa sepengetahuan ayah dan Ibu, andi menggadaikan motor yang biasa dia gunakan untuk ke sekolah kepada seorang preman, yang berkedok tukang ojek sekaligus rentenir. Sekali lagi uang hasil gadai motor pun, digunakan untuk bersenang-senang dengan teman genknya. Malam ini, adalah hari jatuh tempo untuk motor itu dilunasi. Karena Andi tidak memiliki uang, maka motor itu akhirnya direbut paksa. Tidak puas dengan merampas motor, preman itu menghajar Andi hingga babak belur seperti ini.

Sehari sebelumnya, Andi sudah bercerita kepada teman se genk nya bahwa ia butuh bantuan, ia sedang terlilit hutang serius. Namun, apa yang di terima Andi, teman-temannya lepas tangan, tak ada lagi istilah solidaritas, tak ada lagi setia kawan. Andi ditinggalkan sendiri bersama hutangnya. Kini Andi tersadar, bahwa genk yang selama ini dia banggakan, bukanlah sahabat sejati. Mereka tak ada saat Andi kesulitan, Andi ditendangnya ketika sudah tidak bermanfaat lagi.

Dan yang paling membuat Andi terpukul, orang tua yang terlanjur Andi sakiti, mereka tetap menerima dan menolong Andi dalam keadaan apapun. Pelajaran yang sangat berharga dan mahal, hanya untuk dapat membedakan ketulusan antara sahabat dan orang tua. Sahabat dekat hanya sampai jenjang SMP, mungkin ketika SMA, dengan sekolah dan teman yang baru, kita akan kembali menjalin persahabatan dengan teman yang baru. Sedangkan orang tua? Selamanya tak akan berubah, dari kita SD, SMP, SMA bahkan kuliah mereka akan tetap ada untuk anaknya.

Pesan buat kita semua, hati-hati dalam mencari sahabat. Jangan korbankan masa depan kita hanya demi persahabatan yang ada masa nya tersebut. Cari lah sahabat yang bisa mendukung kesuksesan hidup di masa depan.

No comments:

Post a Comment