Wednesday, 14 January 2015

Mesin Pencetak Nilai


http://www.santinabila.com/2015/01/mesin-pencetak-nilai.html
Sebuah prinsip sederhana, apabila melakukan pekerjaan dengan perasaan senang, kemungkinan besar akan membuahkan hasil maksimal. Sayangnya prinsip sederhana ini tergilas roda kapitalis yang kejam. Menuntut hasil yang instan, jika tidak ingin harga dirinya menjadi korban. Semua diukur dengan pencapaian angka tertentu, masalah perasaan, norma agama dan etika menjadi nomer kesekian.
Tidak hanya dalam urusan mencari maisyah (nafkah),  ternyata hal ini pun merambah dunia pendidikan.

Penilaian terhadap seorang anak, diukur hanya dalam angka nilai di raport sekolah. Adilkah? Bukankah setiap anak itu special? Mereka memiliki keistimewaan masing-masing yang khas satu sama lain. Salah satu bukti sederhana, lihatlah sidik jari, apakah ada manusia di dunia ini yang memiliki sidik jari yang sama? Itu artinya, kita semua berbeda, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dan ingatlah, manusia merupakan hasil ciptaan Alloh yang paling sempurna dibanding mahluk lainnya. Jika demikian, apakah bisa kita mengatakan hasil ciptaan Alloh cacat, hanya karena tidak juara di kelas? Naudzubillah min dzalik...

Hal ini pun kami rasakan di Quantum Student, suka tidak suka, sadar tidak sadar, kami “dipaksa” menjadi mesin pencetak nilai anak-anak yang dianggap orang tuanya bermasalah dengan proses belajarnya. Memang, nilai memang dapat menggambarkan serius tidak nya seorang anak dalam belajar. Namun, kita alangkah lebih bijak,sebelum melihat hasil, kita telaah dulu bagaimana proses belajarnya. Menyenangkankah atau sebaliknya menakutkan?

Seperti di paragraf awal, sesuatu yang dikerjakan dengan menyenangkan akan membuahkan hasil maksimal. Sebaliknya, alangkah tersiksanya melakukan pekerjaan dengan kondisi terbebani, karena perasaan yang tidak senang. Logika sederhananya, nyamankah memasak di dapur sambil mengangkat kursi di pundak, sebagai beban?? Selesaikah pekerjaan memasak tersebut?? Kalaupun masakan yang dimasak selesai, apakah rasanya maksimal (lezat) seperti yang diharapkan??

Yuk, bersama kita berfikir sejenak, bagaimana mengarahkan anak untuk tetap bersekolah dan mendapat nilai maksimal, tanpa membebani mereka. Anak yang senang belajar, anak yang rajin sekolah, pasti nilainya baik. Kalaupun butuh tambahan belajar, pastikan bimbingan belajar tersebut mampu membangkitkan semangat belajar anak. InsyaAlloh, lambat laun nilai akademis anak akan meningkat. Memang tidak instan, perlu waktu membongkar belief anak untuk dapat senang belajar. Beri kami waktu untuk merubah karakter anak menjadi lebih baik, karena memang tantangan (godaan) yang dihadapi anak begitu luar biasa, untuk mengalihkan perhatian dari belajar. Dari mulai TV, game on line, smart phone, dll.

No comments:

Post a Comment