Wednesday, 28 January 2015

Fenomena kebencong-bencongan


http://www.santinabila.com/2015/01/fenomena-kebencong-bencongan.html
Berprilaku kebencong-bencongan kini semakin marak saja, bukan hanya di TV, para artis berperan sebagai bencong untuk menghibur pemirsanya. Namun, ternyata gaya laki-laki yang seperti wanita ini dibawa dalam pergaulan. Belum lagi bahasa gaul yang menirukan dan biasa digunakan oleh para bencong, kini menjadi kosakata ter up-date. Mungkin awalnya ini dianggap sesuatu yang lucu, semata untuk menghibur.
Namun, belakangan diketahui bahwa bukan gayanya saja yang ditiru, melainkan lengkap dengan pemenuhan hasratnya juga.
Jadilah kasus-kasus gay dan lesbian yang semakin memprihatinkan. Jika tidak segera disikapi dengan tuntas, ntah kasus turunan apalagi yang akan ternjadi dari gaya kebencongan ini.


Dan yang kini sedang diresahkan oleh para ibu adalah, anak SD pun kini sudah banyak yang berprilaku kebencongan. Jika ditelusuri dengan cermat, para ayahlah yang paling bertanggung jawab akan hal ini. Loh, koq ayah?? Mungkin banyak dari kita yang masih binggung mengapa ayah yang paling bertanggung jawab. Hal ini dikarenakan karena pengasuhan anak didominasi oleh ibu. Jarang ada peran ayah, dengan alasan sibuk bekerja.



Anak laki-laki nya tumbuh menjadi anak yang cerewet dan sering komplain, layaknya seperti seorang wanita. Tidak tumbuh menjadi seorang yang berani mendobrak situasi dan menaklukkan tantangan, yang seharusnya ayah mengenalkan tantangan yang terukur. Ayah harus mampu menyiapkan anak laki-lakinya senagai imam dalam keluarga, yang dapat melindungi dan menjaganya dari siksa api neraka. Kini yang terjadi di kebanyakan rumah tangga, seolah peran ayah menjadi antara ada dan tiada. Akhirnya banyak pula anak yang menjadi gay.



Anak wanitanya tumbuh tanpa mengenal cinta laki-laki yang bertanggung jawab. Normalnya, ayah adalah cinta pertama anak perempuannya, ia adalah idola anak perempuannya, ayah akan senantiasa melindungi dan rela berkorban untuk anak gadisnya. Mencintai lawan jenis merupakan naluri yang ada pada diri manusia, ia nya (ghorizah nau’) tak dapat dihilangkan, namun sangat memungkinkan untuk dialihkan. Apa yang terjadi jika seorang anak perempuan tidak/belum pernah merasakan cinta terhadap lawan jenis? Ya, betul ketika ia tidak mendapatkan di rumah, ia akan mencari di luar.



Fenomena pacaran pun, sebenarnya suatu indikasi kurangnya peran ayah dalam pola pengasuhan. Kebanyakan anak perempuan yang berpacaran sebenarnya hanya ingin merasa dicintai, dilindungi dan diperhatikan oleh lawan jenis. Namun, bagi laki-laki liar yang tak bertanggung jawab, justru malah dimanfaatkan, untuk kepuasan nafsunya. Menurut pengakuan siswa perempuan yang saya tanyai tentang pacaran, ketika di peluk sang kekasih merupakan sesuatu yang menenangkan. Apakah pacarnya (laki-laki) memiliki perasaan yang sama? Belum tentu! Saya yakin, pada saat itu, justru libidonya sangat tinggi dan menuntut kepuasan berikutnya. Itulah propaganda setan, memanfaatkan potensi yang memang ada pada diri manusia agar melakukan dosa. Itu juga mengapa dikatakan berpacaran merupakan gerbang awal perzinaan. Naudzubillah min dzalik.



Kemunduran pertama adalah bila anak sudah membenci ayahnya. Anak-anak hanya hafal kata-kata singkat ayahnya. Sholat! Belajar! Ibumu dimana? Ambilkan itu! Belum lagi kekerasan ayah pada anak. Kekasaran membuat potensi anak menjadi impoten. Fitrahnya ayah adalah pahlawan, ibu memberikan zona aman.





4 comments:

  1. Baru mampir udah suka sama tulisannya :)

    ReplyDelete
  2. kalo aku sih sangat amat ga setuju mak... nice post

    salam kenal mak :)

    stylediaryofmilkteabunda.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. saya pelajar, dan teman saya yang berjenis kelamin pria ini beberapa yang saya lihat di antaranya emang agak sedikit kebencong-bencongan. mulai dari gayanya, prilakunya, sampai gampang ngambek dan suka marah-marah. ahhh...

    ReplyDelete