Wednesday, 31 December 2014

Mogok Sekolah


Dengan mata merah Icha langsung memeluk ibunya, sesaat tiba di rumah pulang dari sekolah. Ibu nya yang terkejut mendapat pelukan serta sesenggukan tangis kecil Icha. Dengan penuh kehangatan ibunya memeluk sambil mengusap kepala Icha yang masih kelas 3 SD. Selepas Icha merasa tenang,
ibunya kemudian bertanya, apa yang sudah terjadi dengan putri kecilnya tersebut. Meski masih berlinang air mata di pipinya, Icha coba menjawab pertanyaan ibunya dengan polos, bahwa ia malu tidak bisa mengerjakan Matematika di sekolah. Hari ini bu guru, menyuruh Icha maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal. Icha malu karena diejek teman-teman sekelas karena tidak bisa.

Setelah ibu mengetahui alasan Icha menangis, kemudian ibu memancing tanya, “terus jadinya sekarang Icha harus apa agar kejadian tersebut tidak terulang lagi?” Maksud hati si ibu berharap mendengar jawaban Icha, “harus BELAJAR!” Namun apa yang terjadi? Jawaban Icha di luar prediksi ibunya, “Icha ngga mau sekolah lagiii...!!” diiringi tangis yang semakin keras, sebagai senjata seorang anak kecil agar permohonannya dikabulkan orang tuanya.

Pembaca pernah mengalami hal serupa? Mendapati anak yang mogok dari sekolah? Apa yang biasanya dilakukan kebanyakan orang tua? Meski saya tidak memiliki data valid, kemungkinan terbesar yang dilakukan orang tua adalah tetap memaksa anak untuk terus bersekolah. Yang jadi permasalahan sekarang adalah, bagaimana cara “memaksa” anak untuk tetap bersekolah. Ada yang memaksa disertai hukuman, ada pula yang membujuk dengan sederet imbalan.

Tak ada yang salah dengan pilihan cara tersebut, bisa bertahan berapa lama? Dan juga apakah itu menyelesaikan permasalahan Icha sebenarnya, yang tidak ingin bersekolah karena malu tidak bisa mengikuti pelajaran yang diberikan sekolah?. Minggu depan InsyaAlloh saya akan bahas tentang cara membangkitkan semangat belajar, dan menjadikan sekolah/belajar sebagai kebutuhan. Stay tune di blog ini yaa bun... ^^

No comments:

Post a Comment