Wednesday, 19 November 2014

Nalar


Kata orang, yang berpendidikan mampu mengambil keputusan yang bijaksana dan membedakan antara yang benar dan salah karena orang berpendidikan menggunakan kekuatan nalar mereka. Lalu kemudian kita menyaksikan kaum muslim Myanmar (Rohingya) dibantai, “ethnic cleansing” di Bosnia, dan banyak lagi peristiwa
semacam itu terjadi dan terus beritanya bertambah panjang.



Saya bingung, karena sudah terlanjur dibuat percaya bahwa semua kekejaman itu merupakan hasil perbuatan irrasional orang-orang biadab yang kejahatannya bersumber dari kebodohan. Lantas layakkah jika dikatakan pelaku pembantaian itu bodoh? Ah, apakah sesederhana itu melabelkan segolongan orang-orang tertentu?

Tak kalah bingung, dengan tingkah polah pejabat yang katanya berpendidikan tinggi, namun sikap dan tindakan yang diperlihatkan sama sekali tidak mencerminkan orang yang berpendidikan. Tak perlu diperjelas juga khan?? Karena hal itu sedah menjadi rahasia umum. Sering kali rrespon yang sering keluar sebagai reaksi pertama terhadap kebijakan pemerintah saat ini adalah, “dimana narnya?” Sayangnya tidak ada yang menjawab pertanyaan spontan saya. Hehehee...

Akhirnya lambat laun pesona nalar semakin memudar, banyak pihak yang memusuhi nalar. Ada banyak penjelasan yang diungkapkan, tetapi yang utama pastilah gagalnya harapan-harapan muluk yang dikaitkan dengan nalar.
Saya tidak bermaksud meremehkan nalar, justru di artikel ini saya ingin membuat catatan (meluruskan) bahwa nalar harus digunakan dan dipelihara sebaik-baiknya. Menempatkan nalar pada posisinya.

Sebenarnya nalar itu apa? Dari mana datangnya? Apa kerjanya? Adakah batasnya?
Ketika mencoba memahami nalar, kita mungkin segera merasakan betapa luas pengaruhnya dalam kehidupan kita. Kita tidak bisa memeriksa nalar lewat sebuah mikroskop, karena mikroskop hanya mampu melihat sesuatu yang kecil saja. Kita harus melihat secara perspektif dengan pandangan menyeluruh.

Bagi guru, nalar adalah latihan intelektual untuk mengembangkan akal siswanya. Bagi advokat, nalar adalah cara membela dan menyanggah kesaksian. Bagi pebisnis, nalar adalah strategi memperoleh keuntungan untuk dapat mempertahankan sekaligus mengembangkan bisnisnya. Bagi ilmuan, nalar adalah metode merancang percobaan untuk memeriksa hipotesis.
Kita tidak dapat mengetahui pasti mengenai asal muasal nalar, bagaimana nalar berevolusi dan sebagainya. Tetapi ada banyak petunjuk bahwa nalar berkembang dari kemampuan bereaksi yang baik terhadap situasi sosial yang kompleks dan selalu berubah. Nalar adalah proses yang digunakan untukmenyelesaikan masalah. Begitu masalah dapat dipecahkan, pemecahan itu dapat disimpan di dalam ingatan (data base) sehingga kita bisa memakainya lagi untuk masalah yang serupa bila perlu, tanpa harus mengulang kembali proses penalarannya.

Agar nalar bisa bekerja, diperlukan fungsi-fungsi otak lain. Harus ada kesadaran, ingatan, dan kemampuan membangun penggalan-penggalan informasi yang tersimpan di otak untuk menentukan keputusan atau jalan terbaik mencapai tujuan. Contoh orang yang mengalami gangguan dalam penalarannya, mencuci pakaian dengan menaruh begitu saja bungkus deterjen bersama pakaian di dalam mesin cuci. Ia tau bahwa pakaian kotor harus dicuci dengan deterjen, walaupun demikian ia tidak sanggup menggabungkan/menyatukan rangkaian tindakan yang tersusun baik.

Nalar bekerja hampir di semua bidang kehidupan manusia, namun nalar tidak mampu mengendalikan tujuan-tujuan manusia. Nalar hanya dapat memberitahu bagaimana cara mencapai tujuan, tapi sekali lagi tidak punya andil dalam mengambil keputusan atau tujuan yang akan ditetapkan. Motivasi adalah energi seseorang dalam melakukan tindakan. Motivasi adalah dorongan untuk mendapat hadiah mental dan sekaligus menghindari hukuman mental.

Manusia akan melakukan apapun yang membuat dirinya puas dan bahagia, serta menghindari apa yang akan membuat kita sedih dan frustasi. Naluri dan emosi lah yang mendorong manusia memuaskan dirinya, dan akan menimbulkan kekecewaan apabila tidak dipenuhi. Kebudayaan, agama beserta beliefnya terkait dengan naluri dan emosi.

No comments:

Post a Comment