Wednesday, 7 May 2014

Sendal Jepit Sang Spirit (part 1)


http://www.santinabila.com/2014/05/sendal-jepit-sang-spirit-part-1.html


Kali ini saya akan berkisah tentang serunya berada dalam komunitas ODOJ. Terlalu banyak yang ingin di ceritakan, mungkin akan saya cicil di tiap hari Rabu minggu depan. hihihii...
Berbagai upaya sudah dilakukan, demi menjaga dan menambah semangat member dalam bertilawah satu juzdalam satu hari (ODOJ), oleh Admin maupun Penanggung Jawab Harian (PJH) yang digilir setiap harinya.
Di hari itu giliran seorang teman (Teh Wati) asal dari Bandung, menjadi PJH, dengan kreatifitas dan semangatnya yang luar biasa, diawali pengantar cerita, bahwa hari itu ia (PJH) akan membawa kami semua ke langit dengan lantunan tilawah, sebagaimana tagline grup kami “Bersama Meroket ke Langit” , untuk mempercepat tujuan kami, maka PJH akan“memberikan” hadiah kendaraan berbeda sesuai jam selesainya kelompok yang bersangkutan.

Dalam 30 orang, di grup kami dibagi menjadi 6 kelompok, jadi tiap kelompok beranggotakan 5 orang. Dan PJH akan memberi kendaraan menuju ke langit. Kelompok tercepat selesai, menjadi juara 1, akan menggunakan pesawat jet. Juara ke-2 akan menggunakan kereta api express. Juara ke-3 akan menggunakan bus cepat AC. Juara ke-4 akan menggunakan angkot, Juara ke-5 akan menggunakan bemo. Dan kelompok terakhir, kelompok 6 akan menggunakan sepeda.

Kebetulan kelompok saya, hari itu tertinggal dengan kelompok yang lain. Jadi kelompok saya dipastikan akan diberikan kendaraan berupa sepeda. Dapat dibayangkan, ke langit hanya menggunakan sepeda, “kapan sampainya?” gumam saya. Padahal 4 teman kelompok saya yang lain sudah selesai (kholas) sebelum dzuhur. Hanya tersisa satu orang lagi utuk dapat selesai (kholas) kelompok. Tapi karena kesibukannya, tidak memungkinkan ia dapat menyelesaikan tilawah, kecuali setelah pulang kerja, malam hari.

Pada saat seru mengamati perkembangan selesai (kholas) tiap kelompok yang lain, kami saling lempar semangat dan gurauan ringan, saya dengan celoteh ringan berkomentar dengan PJH untuk mengantisipasi tidak ada anggota yang rapel. “Sebaiknya anggota yang menyebabkan tidak hatamnya grup, karena memilih rapel untuk besok, diberi ‘penghargaan’ sendal jepit yang dilempar saja”. Seketika PJH dan teman-teman yang lain bersahutan memberi komentar, menyambut dengan tawa hangat kekeluargaan. Walaupun saya, sama sekali belum pernah kenal secara langsung. Dari 30 orang anggota di grup, saya hanya mengenal satu, sahabat baik saya, yang biasa saya sapa dengan panggilaan “bunda cantik” yang bernama lengkap, Bunda Tuty Puspasari. Selebihnya saya belum pernah kenal secara fisik. Kendati demikian, saya sudah merasa nyaman dan akrab dengan semua anggota grup.

*Bersambung minggu depan yaa.... 

No comments:

Post a Comment