Wednesday, 14 May 2014

Sandal Jepit Sang Spirit (part 2)


http://www.santinabila.com/2014/05/sandal-jepit-sang-spirit-part-2.html



Masih berlanjut nihh cerita serunya dari episode sebelumnya, Sandal Jepit Sang Spirit (part1) ^^

Di grup kami, ODOJ 1937, dengan Admin Mba Aisyah, asal Jogyakarta, kami memang memelihara atmosfer berkompetisi (fastabiqul-khoirot), berlomba dalam kebaikan untuk menyelesaikan juz yang menjadi gilirannya hari itu dengan tuntas.
Meskipun terkadang, masih ada saja 2-3 orang yang merapel (merangkap) untuk hari esoknya. Memang pada akhirnya perlu proses pembiasaan (habit) untuk disiplin membaca Al-Qur’an ditengah padatnya aktivitas dunia. Saya pun sebagai bagian dari member grup, terus berupaya mencari cara, membantu Admin dan PJH yang sedang bertugas, agar bagaimana terus menumbuhkan semangat dan rasa memiliki grup ODOJ 1937. Mulai dari posting cerita hikmah, tausyiah, candaan ringan, juga saling memberi perhatian satu sama lain selayaknya sebuah keluarga.

Jika waktu saya senggang, tak jarang saya menyapa teman-teman anggota grup secara pribadi, dengan harapan bisa lebih mengenal pribadinya masing-masing. Ternyata, kedekatan saya dengan sebagian anggota lewat curahan hati (curhat) pribadi, yang sering diceritakan kepada saya, membuahkan hasil. Saran-saran yang Alloh amanahkan melalui jari-jari saya yang terus menari menekan keypad BB, tampaknya membuat teman-teman lebih bersemangat menghadapi masalahnya, dan yang pasti tilawahnya tidak lagi jadi korban. Dengan mengingatkan bahwa Alloh akan tetap bersama dengan kita. Semua masalah hanya ujian sementara, dengan balasan syurga bagi orang-orang yang tetap berpegang teguh pada tali agama Alloh SWT.

Ternyata, kata-kata “sendal jepit” memiliki makna tersendiri buat grup kami. Setiap hari selalu ada saja yang mengingatkan tentang sendal jepit yang akan dilempar bagi anggota yang paling akhir menyelesaikan tilawah atau menyebabkan grup tidak hatam. Jadilah sendal jepit “Trending Topic” di grup kami, selalu saja menjadi bahan candaan bagi diantara kita. Namun, lumayan ampuh sebagai “hukuman” sosial dalam grup kami.

*Lajut lagi ceritanya minggu depan yuaaa...

No comments:

Post a Comment