Wednesday, 2 April 2014

Cermin Pemberi Mantra


http://www.santinabila.com/2014/04/cermin-pemberi-mantra.html


Mata kita bisa melihat anak kita pada kehebatan dan keburukannya sekaligus. Mata kita bagaikan cermin bagi anak. Jika kita ingin melihat anak menjadi SAKTI (= Smart, Mandiri, dan Berbakti kepada orang tua), maka mata kita harus mampu merefleksikan keinginan itu (tanpa syarat), meski mereka pada keadaan terburuk sekalipun.



Sejenak, kita ingat masa lalu kita. Mantra jenis apa yang biasa digunakan orang tua saat kita dibesarkan? Apakah lebih banyak positifnya atau negatif?? Apakah mantra negatif bisa di hilangkan dan diganti dengan yang positif? Apakah saat ini kita tetap di bawah pengaruh mantra tersebut? Sering kali kita tidak menginggat persis redaksi ucapan/mantra apa saja yang sudah diucapkan orang tua kita, namun mantra tersebut diperkuat dengan bagaimana nada suara orangtua saat bicara, volumenya, sikap, dan bahasa tubuh saat berbicara. Esensi dari mantra itulah yang tertangkap dan mengakar kuat dalam alam bawah sadar sehingga menjadi belief untuk kehidupan kita saat ini. Terlepas benar ataupun salah.

Saat kita merasa, maka kita akan mengalami. Ketika anak anda bermalas-malasan, lamban, berleha-leha di sofa depan TV atau asyik dengan game. Persepsi Anda atas diri anak anda adalah “si keong” yang pemalas. Itulah mantra yang tidak anda sadari disematkan ke dalam diri anak. Diikuti dan dipertegas bahwa ia ceroboh, mau enaknya sendiri, minder jika diluar rumah, dan takut anak tidak akan pernah mencapai apapun dalam hidupnya.

Jika mantra seperti itu yang ada di kepala anda, maka sikap dan reaksi yang terjadi dalam diri anda kepada anak adalah, mencerca, mengomeli, tidak percaya, dan selalu mengkritik. Tindakan apapun secara sadar ataupun tidak, anda akan terus bereaksi untuk mendukung kebenaran mantra anda sebagai “si keong” yang pemalas. Gambar keong lah yang dilihat di mata anda, sehingga ia akan terus bersikap mirip keong. Karena anak sedang di bawah mantra keong.

Dahsyat bukan, mantra seorang ibu?? Berhati-hatilah dalam bersikap kepada anak atau kepada orang-orang yang kita sayangi. Mantra negatif sangat memungkinkan bisa diganti dengan mantra positif. Perlu digaris-bawahi bahwa orang tua selalu menyayangi anaknya, ingin selalu memberikan yang terbaik kepada anaknya. Kalaupun tidak sebagaimana yang seharusnya, maafkanlah. Karena orang tua pun manusia biasa, sebelum kita menuntut kesempurnaan dari orang tua, bercerminlah terlebih dahulu, apakah kita sudah sempurna menjadi anak yang diinginkan orang tua????

 

No comments:

Post a Comment