Wednesday, 5 February 2014

Matahari dan Bintang Ku



Semenit lagi, biarkan kedua tanganku merangkul penuh harap untuk pertemuan yang tak terjamah ini. Belum puas dahaga ku melepas rindu, biarkan mataku tetap tertutup untuk memutar kembali kenangan yang ntah kapan terjadi. Betapa ku menikmati detik demi detik kebersamaan kita dalam maya. Merasakan tatapan mata-mata teduh penuh cinta, memandang lekat diriku yang memaku menyaksikan pagi dan senja di sepanjang sisa hidupku.  


Sinar di ujung sana menerangimu, menjaga agar kau tetap bersinar di siang dan malam hari. Aku hanya dapat memandangmu sebagai matahari di siang hari, dan bintang di malam hari. Tanpa mampu jari jemari ini membelai lembut wajahmu. Hangat yang kau pancarkan, berbeda dengan hangatnya cinta dalam dekapku. Cinta yang semakin membara seiring waktu yang berjalan. Sebelas tahun berlalu, rentang hatiku menyayat rindu.

Matahari dan bintang ku, kalianlah energi dalam hidupku, meski kalian hanya sebatas cahaya yang hanya dapat dinikmati tanpa bisa dimiliki. Di siang hari, matahari ku selalu setia menemani, begitupun malam hari, bintang selalu menerangi gelap malamku. Suatu ketiak, kalian pernah berkata, bila ku merindu, bicara saja ke angkasa dan kalian akan merasa. Aku tau diri, semua tak kan mungkin, hingga Sang Penguasa Kehidupan berkehendak lain. Biarkan semua jadi kenangan yang mungkin tak kan terlupa sampai manula. Hujan di ujung bulan, biar jadi saksi hati, betapa ku merindu, namun ini tak mungkin.

Begitu dekat lantunan suara lembut itu terdengar di telingaku. Dengan berbisik bintangku menceritakan suatu rahasia. Bahwa suatu saat nanti, Tuhanku pasti akan menyatukan kita bersama, bercengrama dan berbagi tawa bahagia. Jikapun belum saat ini, biarlah kedua tangan ini akan ketengadahkan dahulu, berharap dan berdoa, sebelum akhirnya memeluk kalian.  Aku ikhlas sayang, pada saatnya kelak, semua akan terbayar lunas.


No comments:

Post a Comment