Wednesday, 1 January 2014

Antara Mobil dan Anak


“Bisa berenti ga nangisnya?, berisik tau!”, “Pegang yang bener gelasnya, nanti kalau jatuh, pecah”, “kamu itu ya dilarang kayak disuruh aja, sebaliknya kalau disuruh, lama sekali melaksanakannya, membuat mama jengkel!”
Percakapan itulah yang kerap terjadi antara seorang ibu dan anak
yang akur dan berselisihnya, lebih banyak berselisihnya. Bersyukurlah orang tua yang memiliki anak penurut, yang selalu mengikuti apapun yang diinginkan orang tuanya. Apakah ayah/bunda yakin mau memiliki anak yang selalu menurut apa yang ayah/bunda katakan?? Yakin mau?? Sudah bulat kah keputusannya untuk mensetting buah hatinya selalu menurut apa saja yang ayah/bunda katakan??

Okey, sebelum menjawab, saya akan berkisah tentang seorang anak perempuan manis yang dulunya sering dimarahi ibunya, selalu saja ada suara tangisan dan teriakan yang bikin heboh seisi rumah. Akhirnya tumbuhlah dalam hati gadis cantik tersebut rasa bosan selalu dimarahi oleh orang tuanya, terutama ibunya. Karena dimarahi itu sesuatu yang tidak nyaman, dan harus dihindari, maka keputusan gadis cantik itu adalah SELALU menurut apa saja yang dikatakan/diminta orang tuanya. Positifnya, rumah sekarang lebih tenang, tak ada lagi energi negatif kemarahan, semuanya terkendali dalam genggaman ibunya.

Kalau gitu bagus dong?? Oh, tentu saja bagus, tak ada lagi perselisihan yang mengundang emosi. Namun, sadarkah kita? Ada bahaya besar yang mengancam gadis cantik tersebut karena perlakuan orang tua semacam itu. Apa itu, mind set sang gadis cantik negatif dalam menilai dirinya sendiri, data storage nya berpesan bahwa dia tidak boleh berinisiatif jika tidak ingin di marahi. Apapun yang dia lakukan PASTI salah dan hanya mengundang marah orang-orang sekitar.

Kepercayaan dirinya HANCUR. Di kalangan teman-temannya dia lebih memilih pasif, menunggu perintah temannya yang lain. Kreatifitas dalam menentukan sikap terampas oleh cacian yang biasa terlontar dalam kalimat amarah ibunya. Iya, kalau di dalam rumah, ada orang tua yang me-nyetir demi kebaikan si anak, lalu ketika di luar rumah siap yang me-nyetir nya? Toh, si anak tidak selamanya ada dalam rumah saja kan??

Sedangkan si anak sudah terbiasa di-stir, dia tidak akan melakukan apa-apa hingga ada orang yang memerintahnya. Mampukah orang tua menjamin bahwa yang mengarahkan anaknya di luar rumah adalah orang yang bertanggung jawab?? Salahkah orang tua yang memarahi anak?? Oh, TIDAK. Sama sekali tidak salah. Tugas orang tua adalah mengenalakan apa saja yang kemungkinan yang terjadi dalam sebuah proses kehidupan. Di sana terdapat informasi-informasi yang bernada memerintah dan melarang. Semua harus disampaikan dengan bijak sesuai porsi yang seimbang.

Anak kita bukanlah mobil, yang bisa di stir siapa saja, dia harus bisa mandiri, berdiri di kakinya sendiri, tanpa tergantung orang lain. Bersahabatlah dengan anak, layaknya seorang sahabat yang saling memahami satu sama lain.



2 comments:

  1. Menyampaikan sebuah informasi kpd anak hrus pelan2 ya, Mba. Smpai dia paham mksud ucapan lita. :)

    ReplyDelete