Wednesday, 22 January 2014

Budaya Membaca

http://www.santinabila.com/2014/01/budaya-membaca.html
Lembar demi lembar ku buka satu persatu, tak lelah mata ini terus saja menyisir saru-persatu ayat yang tertulis di dalamnya. Ku lantunkan pelan dalam subuah mobil yang sedang melaju. Ku biarkan seluruh indraku merasakan kehadirannya, kedua tangan ini memeluk dengan erat. Layaknya seorang gadis kecil yang sedang memeluk boneka kesayangaanya.  
Al-Qur’an memang sebuah mukjizat, keajaiban yang tak terdefinisikan. Di lihat dari sudut manapun, semua istimewa. Dari sura yang keluar dari lisan yang membacanya, dari segi keindahan sastranya, belum lagi dari konten yang terkandung di dalamnya. Subhanalloh luar bisa, mampu menarik apapun yang berada disekitarnya untuk larut bersama alunannya.

Bukan pemandangan yang aneh, ketika jam berangkat kerja/sekolah. Untuk memanfaatkan waktu, yang biasanya pada jam-jam tersebut jalanan macet atau yang lebih terkenal dengan “jam macet”, banyak orang membawa bacaannya ke dalam kendaraan umum, sekedar koran atau majalah. Demikian pula dulu saat  kuliah, kebiasaanku sering menyelesaikan bacaan dalam mobil angkutan umum, terlebih ketika musim ujian. Berbeda dengan pengalaman yang ku jumpai pada saat menunaikan ibadah haji. Yang ada dalam genggaman tangan mereka adalah Al-Qur’an yang dibaca untuk memanfaatkan waktu kosong. Baik itu laki-laki atau wanita, yang berusia muda ataupun yang sudah tua.

Suatu ketika berjalan menuju masjid, ada seorang kakek, nampaknya seperti dari Pakistan atau India dengan pakaian gamis khas mereka. Duduk di tepi jalan, sambil membaca ayat suci al-qur’an. Suaranya begitu indah terdengar. Jika tidak ada rasa malu atau sungkan, ingin ku duduk dekat dengannya sekedar untuk mendengar suara bacaan yang begitu khas. Diam-diam rasa kagum itu mengalir dengan sendirinya dalam darahku, “Seandainya pemandangan orang-orang di jalan (Jakarta) sama dengan apa yang ku saksikan di mekah/madinah ini, Indah rasanya.” Gumamku dalam hati.

Namun, sepertinya lambat tapi pasti, hayalan dan harapanku, sedikit demi sedikit menjadi kenyataan. Pada suatu hari, aku dan suami sedang mengecheck salah satu Ruko kami, dalam perjalanan pulang, secara tidak disengaja bertemu dengan teman lama suami yang istrinya pun berteman baik dengan ku. Namun, hanya suaminya saja yang menyapa suamiku, karena istrinya sedang sibuk belanja dalam toko. Kebetulan saat itu aku sedang membaca Al-Qur’an, setelah kututup aku pun menyapa sekedar “say hello”. Kemudian kami pergi melanjutkan perjalanan. Tidak lama selang kejadian itu, istrinya BBM ke aku, mempertanyakan mengapa aku tidak turun dari mobil, dan menurut penuturan suaminya, bu santi sedang ODOJ. Hihihii...

Sudah tenar rupanya istilah ODOJ (One Day One Juz), walaupun jauh sebelum booming trend ODOJ, aku memang sudah lama berkommitmen untuk menghatamkan minimal 1 kali dalam 1 bulan. Entah siapa yang memulai menciptakan atmosfer ODOJ, yang pasti program itu akan menjadikan nyata hayalanku, akan dibacanya Al-Qur’an dimanapun juga. Seperti yang aku saksikan di tanah suci. Semoga yang mencetuskan trend ODOJ diberikan balasan yang berlipat dari Alloh SWT, terlepas pro dan kontra terhadap program tersebut.


2 comments:

  1. Allhamdulillah aku juga ikutan ODOJ :)

    ReplyDelete
  2. Cakepp... ;)
    hanya orang-orang cerdaslah yang ingin selamat dan ingin selalu dekat dengan Al-Qur'an.
    kl HP saja punya manual book, apalagi manusia makhluk Alloh yg mulia,
    manual book nya manusia yaa... Al-Qur'an :)

    ReplyDelete