Wednesday, 23 May 2012

Anak Cermin Orang tua

Sebentar lagi hasil akhir anak sekolah akan terungkap. Perjuangan selama satu tahun belajar di sekolah akan ditentukan, apakah layak untuk naik kelas atau lulus dan melanjutkan ke jenjang berikutnya.
Biasanya pada moment ini orang tua lah yang lebih “agresif” dibandingkan dengan anak yang bersangkutan.
Terlebih jika hasil anaknya tidak sesuai dengan harapan, Dimarahi sudah pasti, itu merupakan reaksi awal. 

Kebanyakan orang tua khususnya ibu, akan merasa malu jika prestasi anaknya memalukan. Mereka malu terhadap teman-temannya, malu terhadap keluarga besarnya dan pastinya takut jika dimarahi suami, karena dianggap tidak mampu mendidik. Tanpa memperdulikan hasil jerih payah yang telah dilakukan anak, hal ini akan sangat mempengaruhi psikologi anak. 

Bukan persahabatan yang hangat yang akan tercipta dengan orang tua, tapi perang dingin lah yang akan timbul. Anak akan merasa sendiri, tertekan, dan semakin menguatkan label negatif yang ada pada diri mereka bahwa “sekolah/belajar sangat menyiksa” Mereka akan terpuruk lebih dalam lagi. Prestasi yang tidak sesuai yang orang tua inginkan, bisa jadi sudah diperjuangkan si anak dengan kemampuan dia. Hal ini bisa juga berakibat anak akan melakukan cara apapun agar memperoleh hasil yang diinginkan termasuk dengan cara curang. Hal ini malah menjauh dari tujuan mendidik itu sendiri.

Orang tua sama sekali tidak mempedulikan atau mungkin tidak tau akan akibat perlakuan mereka. Sehingga apa yang biasa dilakukan oleh ibu seperti ini… ? yup, biasanya mereka sibuk mencari “kambing hitam” –mencari kesalahan- baik dari anaknya, sekolah, guru bahkan tempat lesnya. Jarang sekali para ibu ini introspeksi terhadap dirinya sendiri. Karena orang tua merasa sangat kecawa sekali, karena biasanya saat seperti ini merupakan “ajang pamer” diantara teman-teman orang tua.
Hasil rapot atau prestasi merupakan suatu akibat dari serangkaian proses. 

Jika kita mau jujur, kebanyakan orang tua hanya ingin menyelamatkan prestise/gengsi dari lingkungannya saja. Mereka cendrung memiliki sikap yang “mau terima jadi” nya saja, mereka sering berargumen “kan saya sudah membayar mahal untuk pendidikan anak”. Mereka lupa, waktu yang paling banyak dihabiskan seorang anak adalah di rumah, beserta ibunya. Keseharian anak biasanya mencontoh prilaku orang tuanya di rumah, sadar atau tidak sadar sikap keseharian orang tua terekam di bawah alam sadar seorang anak, yang sifatnya long term memory (ingatan jangka panjang) yang kelak akan menjadi karakter pada diri si anak.

Oleh sebab itu, hati-hati ketika akan memarahi anak, atau meng-komplain bapak/ibu guru di sekolah atau di tempat les. Khawatir jika marah berlebihan, anda akan malu sendiri, sebab anak anda mencontoh prilaku anda. Terlebih apabila sang anak mengetahui anda memarahi bapak/ibu gurunya, percayalah niscaya merekapun akan merekam prilaku anda, dan jangan kaget jika ternyata suatu saat anak anda akan menjadi anak yang tidak memiliki kepercayaan diri, atau bahkan menjadi anak yang kurang ajar terhadap orang yang lebih tua, termasuk anda orang tuanya sendiri. Jadi berhati-hatilah. Alangkah lebih bijak, jika hasil yang “mengecewakan” itu menjadi evaluasi perbaikan diri terhadap anak, orang tua serta bapak/ibu guru. Perbaiki komunikasi dengan orang-orang yang terkait ini, buat kommitmen bersama untuk menjadikan prestasi di tahun depan lebih baik lagi…

No comments:

Post a Comment