Wednesday, 11 December 2013

Penyesalan


www.santinabila.com
“Sepertinya anak ibu, lebih baik mengulang di kelas ini untuk tahun depan.” Sungguh kalimat pahit yang harus ditelan, oleh orang tua kendati sang ibu sudah cukup mengenal buah hatinya. Dengan wajah lusuh, sang ibu memaksakan senyumnya di depan wali kelas guru anaknya saat pembagian raport kemarin. Kejadian ini diceritakannya kepada saya, dan sang ibu meminta tolong untuk membantu anaknya keluar dari masalah ini, dengan memberikan tambahan belajar dengan privat.

Sebelum saya menyanggupinya, saya tanyakan gambaran keadaan anaknya. Dengan penuhnya rasa ketidaknyamanan sang ibu menceritakan, bahwa anak pertamanya ini semenjak usia 4 bulan sudah dititipkan ke neneknya dikampung, sang ibu dan ayah mencoba mengadu nasib di kota besar. Kasih sayang sang nenek ternyata melemahkan anak itu. Manja yang berlebih, menuntut dipenuhinya apa yang diinginkan anak itu. Tumbuhlah ia sebagai anak egois dan manja yang sangat sulit diatur. Setelah usianya menginjak 7 tahun, sang ibu dan ayah mengambilnya untuk disekolahkan di kota besar, tinggal bersama orang tuanya.

Orang tuanya terkejut, tak mengenal lagi siapa anaknya, karakter yang terbentuk tidak dapat dikuasai oleh orang tuanya sendiri. Di mata si sulung, orang tua diposisikan sebagai pelayan, yang harus menyediakan/menuruti apapun yang dia mau. Bukan sebagai sahabat yang memiliki komunikasi yang baik. Komunikasi yang terjadi dengan si sulung sifatnya hanya satu arah, yang berisi rajukan untuk mendapatkan sesuatu tanpa orang tua bisa mencegahnya, kecuali menurutinya.

Berbeda jauh dengan adiknya, yang lebih mudah diatur, lebih bisa mendengar pesan-pesan orang tua dan pelajaran di sekolah dapat diikuti dengan mudah. Diperparah, di kota besar si sulung ini mengenal game on line dan kecanduan, sudah bisa dipastikan akibatnya. Ya, benar... gangguan dalam berkonsentrasi, terutama dalam belajar. Lengkaplah masalah si sulung dimata orang tuanya. Sang ibu tidak dapat mengendalikan. Hampir tiap hari waktunya dihabiskan di warnet. Karena kesibukan ayah dan ibunya yang bekerja. Kejadian ini, hanya disikapi sekedarnya saja. Dilarang, pastinya sudah berkali-kali. Namun hanya masuk telinga kiri keluar di telinga kanan oleh si sulung. Dia bebas ketika orang tuanya tidak ada dirumah.

Nasi sudah menjadi bubur, si sulung terlanjur membawa label anak bodoh, idiot, dan sullit diatur oleh orang-orang sekitar. Dan pelabelan itu terus berulang sepanjang tahun hingga kini. Dengan berat hati, saya katakan “jika ibu mau anaknya dibantu, saya minta jangan terlalu berharap pada hasil yang tinggi. Hargailah prosesnya” sang ibu menyanggupi. Saat itu saya katakan bahwa 80% masalah belajar pada anak disebabkan oleh faktor emosi dan psikologi. 20% sisa nya baru masalah metode belajarnya. Jadi saya akan minta kerjasama sang ibu untuk membenahi masalah emosi dan psikologinya.

Pelajaran yang saya ambil adalah, tidak ada anak yang bermasalah, kecuali datang dari orang tua yang bermasalah. Proses perusakan mental anak membutuhkan waktu, hingga hasilnya seperti dilihat saat ini. Begitupun proses pemulihannya, mungkin butuh waktu yang lebih lama lagi. Berhati-hatilah, penyesalan selalu datang terlambat. Jika datang di awal nama nya “pendaftaran” hehehee...

 

3 comments:

  1. bener... orang tua sangat berpengaruh pada perkembangan karakter seorang anak. tapi kebanyakan orang tua tidak menyadarinya.

    ReplyDelete
  2. aku jadi inget sama seorang anak, ibunya keras, si anak di suruh les mata pelajaran ini itu padahal si anak gak bodoh kok kalau menurutku, aku jarang denger ibunya muji si anak, misalnya si anak dapet nilai 7 pasti dimarahin, dibilang bodoh, padahal kalo aku sih lebih baik dipuji dulu, paling gak dia kan sudah berusaha untuk dapat yang terbaik. si anak ini sepertinya cuma ingin 'diperhatikan' oleh orang tuanya sehingga berbuat hal yang nakal.

    ReplyDelete
  3. Anak memang cerminan orang tuanya. jika ada orang tua mengeluh tentang kekurangan anaknya dengan kebencian. sesungguhnya orang tua tersebut sedang menelanjangi dirinya sendiri. membuka aib sendiri, karena gagal membentuk anak yang baik

    ReplyDelete