Wednesday, 18 December 2013

Nilai Raport


http://www.santinabila.com/2013/12/nilai-raport.html

Musim ujian semester yang dilanjutkan dengan pembagian raport memang saat-saat menegangkan bagi anak sekolah dan orang tua. Tingkat sensivitas kedua belah pihak ini sedang memuncak. Orang tua, biasanya ibu, lebih ketat lagi mengawasi dan menginggatkan anak untuk belajar. Statement-statment pun mengalir deras dari lisan ibu. Mulai dari janji memberikan reward/hadiah jika
nilainya meningkat hingga ancaman jika nilai raportnya memalukan/jelek. Tanpa disadari kebanyakan orang tua, mereka melakukan itu sesungguhnya hanya untuk menyelamatkan harga diri nya di depan kerabat dan sanak saudara. Dan akan menjadi suatu aib jika kenyataannya nilai raport anak menyedihkan, tidak sesuai dengan harapan.

Apapun dilakukan orang tua agar prestasi anaknya dapat menaikkan harga diri/kebanggaan mereka dimata relasinya. Memanggil guru privat, menekan anak agar menambah jam belajar, mengurangi kegiatan yang tidak ada hubungan langsung dengan belajar, dan lain sebagainya. Salahkah obsesi orang tua tersebut?? Tidak !! sama sekali tidak salah. Namun kemudian permasalahannya adalah, apakah jika nilai anak di rapot bagus, bahkan menjadi juara kelas, dapat dikatakan pola didikan yang diberikan orang tua berhasil? Semua hanya diukur dari rata-rata nilai di kelas. Saya ulangi “rata-rata nilai di kelas”, bukan kah setiap anak itu unik? Tiap anak memiliki keistimewaannya masing-masing. Adil kah, jika hanya sebuah angka akan merenggut dan melabelkan salah seorang anak dengan julukan bodoh, ketika nilainya buruk dimata kebanyakan orang?

Sebenarnya anak seperti apa yang ingin dimiliki setiap orang tua? Anak yang cerdas saja kah? Atau anak yang mampu memberikan kebahagiaan di dunia bahkan hingga akherat? Jika semua orang tua menginginkan anaknya mampu memberikan kebahagian dunia akhirat, jawabannya hanya jika dan hanya jika anak tersebut menjadi anak yang sholeh/ah. Sepakat??

Mengapa? Sebab seorang anak sholeh/ah salah satu cirinya adalah berbakti kepada orang tua. Dan akan senantiasa menuruti apapun keinginan orang tua. Jika orang tua memintanya untuk belajar dan bersekolah dengan seriuis, mereka pasti akan mentaatinya. Bisa dibayangkan kelanjutannya khaann?? Mereka akan menjadi anak yang berprestasi.

Namun, jika hanya orientasinya nilai saja. Anak bisa jadi akan belajar menghalalkan segala cara, sehingga mereka akan selamat dari omelan atau bahkan hukuman dari orang tua yang kecewa karena nilai yang diinginkan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Alangkah bijaknya jika orang tua bisa menjadi sahabat anaknya. sehingga komunikasi yang terjalin baik. Anak mampu mengerti apa yang diharapkan orang tuanya, begitu pula orang tua faham apa yang diinginkan anaknya.



No comments:

Post a Comment