Wednesday, 4 December 2013

Berharap kepada Manusia = KECEWA!!

http://www.santinabila.com/2013/12/berharap-kepada-manusia-kecewa.html
Minggu ini, rasanya Alloh telah memberikan pesannya dengan sangat jelas, untuk dapat melihat dua kejadian yang intinya masih satu frekuensi. Perasaan menjadi salah satu TEAM yang diabaikan. Dan memaksa saya untuk tidak bersedia lagi dimanfaatkan oleh urusan apapun dalam kepentingan bisnis pihak tertentu. 

Sebenarnya perasaan janggal ini sudah terasa, seiring waktu tampak semakin jelas, ekspektasi tak sesuai harapan. Namun selalu saja sirna, karena
pendekatan yang sangat halus dan sikap positive thinking yang senantiasa terus diusahakan. 


Berharap kepada janji manusia hanya akan menelan kekecewaan, tak terkecuali terhadap orang yang kita anggap lebih, sesosok manuasia yang oleh kebanyakan orang sangat dihargai dan dihormati. Dimulai dengan perlakuan pilih-pilih perhatian terhadap rekan yang lain, serta commitment untuk growing together seolah hanya lip servis dan terasa perih jika diresapi.

Menjadi salah seorang TEAM yang membawa misi mulia, melahirkan sebuah konsekwensi, yaitu PENGORBANAN. Dari urusan materi/transport, tenaga hingga waktu yang semestinya mengurusi bisnis pribadi, apalagi hanya sekedar memberikan perhatian remeh-temeh yang diminta keluarga semua ditempatkan pada nomer urut belakang.  Ketika ini memang urusan dakwah, "oke, it’s fine!" Karena Alloh nantI yang kelak akan memperhitungkan semua pengorbanan tersebut. Tapi jika ini masalah bisnis/untung-rugi salah satu pihak, dapatkan hal ini diterima??

Perasaan ini tetap menari-nari dalam logika berfikir, namun tetap positive thinking, dengan persepsi simbiosis mutualisme, kelak ketika bisnis saya perlu dibantu, saya pasti akan dibantu. Walaupun sejak awal saya memang sudah agak ragu, karena menyadari adanya pilih-pilihan perhatian. 

Pada kasus pertama, suatu ketika tibalah saatnya, bisnis saya memerlukan pendampingan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah kami lakukan. Pikir saya, selayaknya simbiosis mutualisme, semua akan merasakan keuntungan, namun apa yang saya dapatkan?? TIDAK sama sekali, jangan berharap pendampingan, perhatian yang diberi pun hanya sekenar mengisi waktu untuk urusan bisnis berikutnya. Rasanya hambar tanpa rasa. Bahkan yang saya rasakan cendrung meremehkan. Asal tahu saja !!

Pada kasus kedua, dengan meninggalkan keluarga yang sedang dalam masalah untuk sebuah pertemuan persahabatan. Dengan niat yang iklas menjemput dan mengantarkan dengan penuh rasa hormat. Meski di hati banyak emosi terpendam karena memikirkan keluarga. Namun sekali lagi, semua itu dapat terkendali dengan kata sakti yang bernama commitment dengan janji.  Konon, daari pertemuan tersebut, terakhir diketahui terjadi kabar gembira dengan terjadinya closing transaksi diantara sahabat. Mirisnya kabar gembira tersebut justru didapat dari pihak ketiga. Apalah arti sebuah TEAM jika diposisikan sebagai penonton? Ah, sudahlah mungkin perasaan saya saja yang menganggap bagian dari TEAM.

Jelas lah sudah, keluargalah tempat kembali setelah dikecewakan orang lain, dari keluarga pula terbangunnya diri kita saat ini. Disaat orang lain meragukan, keluargalah yang yakin akan diri kita. Disaat orang lain meninggalkan, pelukan hangat keluarga akan selalu ada. Hanya keluarga yang mampu menerima diri kita apa adanya, tanpa sarat dan kepentingan apapun.

Walaupun dua kejadian tersebut membuat saya kecewa, serta tidak menyenangkan perasaan, namun banyak hikmah yang dapat diambil pelajarannya. kini kami menjadi lebih fokus dalam mengurus bisnis.

Peristiwa ini akan sulit di hapus dalam memori, karena melibatkan emosi yang dalam. Hanya ada satu cara untuk melupakannya, yaitu dengan menjadikan PEMBUKTIAN sebagai "strong why". Bukti bahwa diri saya lebih baik, dan akan tegak berdiri dengan kaki sendiri. Sebagaimana level yang sudah saya lewati sampai saat ini. Akan lebih baik menjadi kepala tikus dari pada hanya menjadi buntut gajah. Dalam memori saya, tidak berisi setting-an untuk diperlakukan sebagai seorang pekerja.  Remember that!!



No comments:

Post a Comment