Wednesday, 16 October 2013

Umar bin Kaththab (part 2)



Kendati demikian keras penampakan Umar di depan musuhnya, tidak terhadap Rosululloh, Umar sangat lembut dan mencintai beliau. Pernah suatu ketika Rasullulloh SAW memegang tangan Umar, dalam posisi tangannya masih dipegang Rosululloh itu, Umar berkata, “Wahai Rasululloh, sungguh saya sangat mencintai engkau lebih dari apapun, selain diriku.” Rosululloh menyanggahnya,
“Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, hingga saya lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Umar pun berkata,”Maka sesungguhnya sekarang, demi Alloh, Engkau lebih saya cintai dari diriku sendiri.” Rasululloh berkata, “Sekarang baru engkau mengatakan yang benar wahai Umar.”

Sungguh teramat jelas pernyataan yang disampaikan Umar tersebut, dia sangat jujur dalam pengakuannya, sangat cepat dalam merealisasikannya. Dia tidak pernah ragu dalam menjawab dan selalu menyegerakan diri untuk mengkoreksi kealfaannya tanpa rasa malu. Sejak saat itu, Umar berusaha untuk membuat dirinya mencintai segala hal yang dicintai dan diinginkan Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Umar menjadi khalifah berdasarkan keputusan dari Abu Bakar As-Shiddiq dan disetujui oleh kaum muslimin. Mereka membaiatnya secara umum di Masjid. Umar pun menerima amanah kekhalifahan itu, meski dia tidak menyukainya. Umar menjelaskan pada semua orang bahwa seorang khalifah itu harus memiliki empat sifat. Dia berkata, “Hendaklah orang yang menjabat sebagai khalifah itu memiliki empat sifat, yaitu kelembutan yang tidak membuatnya lemah, ketegasan yang tidak membuatnya berlaku kasar, kesederhanaan yang tidak membuatnya bakhil, dan kedermawanan yang tidak membuatnya menghambur-hamburkan harta”

Suatu hari Umar naik keatas mimbar untuk menyampaikan kebijakan yang diambilnya. Umar berkata, “Aku mendengar orang-orang merasa takut dan khawatir pada sikapku yang keras.” Kebanyakan mereka berkata “Umar bersikap keras ketika Rasululloh masih hidup ditengah-tengah kita, dia pun berlaku keras pada saat Abu Bakar menjadi pemimpin kita. Lantas, bagaimana jadinya jika dia yang memegang tampuk kepemimpinan?” kemudian Umar melanjutkan pidatonya. “Ketahuilah bahwa orang-orang yang mengatakan itu benar. Pada saat Rasululloh masih hidup, saya menjadi pembantu dan penolongnya. Rasululloh adalah orang yang paling lembut dan penyayang. Maka posisi saya adalah  seperti pedang yang terhunus, sehingga beliau menahan atau membiarkan saya bergerak. Saya tetap dalam posisi itu sampai Rasululloh meninggal dunia dan beliau meridhoinya. Segala puji bagi Alloh atas hal yang demikian dan saya merasa bahagia dengannya”.

“Lalu kemudian Abu Bakar tampil menggantikan posisi Rasululloh sebagai pemimpin kaum muslimin. Dia pun terkenal dengan sifat pemaaf, pemurah, dan lemah lembut. Sayapun berposisi sebagai pembantu dan penolongnya. Bergabunglah antara sikap keras saya dan kelembutannya. Maka posisi saya seperti pedang yang terhunus, sehingga Abu Bakar menahan saya atau membiarkan saya bergerak. Saya tetap dalam posisi demikian sampai Abu Bakar meninggal dunia dan dia merasa ridha terhadapku. Segala puji bagi Alloh atas hal yang demikian dan saya merasa bahagia dengannya.”

“Kemudian saat ini, saya diangkat sebagai pemimpin kalian. Maka ketahuilah bahwa kekerasan sikapku itu telah melemah. Sikap keras itu hanya akan muncul untuk orang-orang yang berbuat zhalim dan melakukan pelanggaran terhadap syariat Alloh. Sedangkan orang-orang yang memegang teguh agamanya, maka saya akan bersikap lembut terhadap mereka, bahkan lebih lembut dari sikap sesama mereka. Tapi saya tidak akan membiarkan ada orang yang menzholimi orang lain atau melanggar hak saudaranya, sampai saya meletakkan pipinya ke tanah dan dia mau kembali pada kebenaran. Sebaliknya, saya akan meletakkan pipi saya ke tanah untuk orang-orang yang menjaga kehormatan dirinya dan tidak berlaku aniaya.”

Subhanallooh... sungguh sosok pemimpin yang sangat dirindukan saat ini. Islam telah membentukdan merubah pribadi Umar bin Khaththab menjadi pribadi mulia, pemimpin yang dicintai dan mencintai rakyatnya. Sungguh, tidak ada pilihan lagi selain kembali kepada Islam untuk mendapatkan pemimpin sekaliber Umar bin Khathtab.


No comments:

Post a Comment