Wednesday, 9 October 2013

Umar bin Kaththab (part 1)



Tegas dalam bersikap, wataknya keras, tabiat yang kuat, serta disegani/ditakuti semua musuhnya. Itulah sosok Umar bin Kaththab. Sehingga ketika awal-awal Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam berdakwah di mekkah, Rosululloh menyimpan harapan besar agar suatu saat Umar masuk Islam, melihat kekuatannya yang luar biasa dan kelebihannya dibandingkan orang-orang sebayanya.
Maka Rosululloh pun memanjatkan doa kepada Alloh SWT. “Ya Alloh, perkuatlah islam dengan salah satu dari dua orang yang lebih Engkau sukai: Umar bin Kaththab atau Abu Jahal bin Hisyam.” Dan ternyata yang lebih disukai oleh Alloh dari mereka berdua adalah Umar bin Kathtab.

Umar melaksanakan keislamannya dengan kualitas prima. Bersama rosululloh dan sahabat yang lain, Umar membela Islam dengan gagah berani. Kaum kafir Quraisy akan berfikir beberapa kali untuk berhadapan langsung dengannya. Pada saat perintah berhijrah turun,  kebanyakan kaum muslimin hijrah ke Madinah dengan cara sembunyi-sembunyi. Umar justru bersikeras untuk Hijrah secara terang-terangan agar dapat menjadi cambukan bagi kaum Quraisy dan pukulan keras bagi jiwa mereka.

Ali bin Abi Tholib mengkisahkan ketika Umar hendak berhijrah, Umar menenteng sebilah pedang ditangan kanannya, meletakkan busur di pundaknya. Umar pun memegang beberapa anak panah dengan tangan kirinya. Kemudian Umar mendatangi Ka’bah, melakukan Thowaf  tujuh putaran di Ka’bah, kemudian shalat dua rokaat di maqom Ibrahim. Sungguh seorang kesatria yang gagah berani di mata manusia, sekaligus seorang hamba yang taat dihadapan Tuhannya. Diselesaikannya ritual ibadah dengan ketundukan seorang hamba.

Setelah itu menemui tokoh-tokoh Quraisy dan tetua mereka, yang selalu mengintimidasi kaum muslimin Mekkah saat itu, seraya berkata dengan suara khas Umar yang menggelegar, “Wahai... wajah-wajah yang TIDAK bersinar, barang siapa yang ingin ibunya kehilangan anaknya, barang siapa yang ingin anaknya menjadi yatim, barang siapa yang ingin istrinya menjadi janda, TEMUI AKU di balik lembah ini.” Umar menantang dengan berani. Suara keras dan lantang Umar seolah aliran listrik yang me-nyetrum aliran darah mereka. Kaum Quraisy yang berada di tempat kejadian tersebut, seketika membisu dan kaku. Umar pun berangkat hijrah dilepas oleh tatapan mata kaum Quraisy yang ketakutan. Tidak ada satu orang pun yang berani mencegah kepergian Umar.

Sikap pemberani seperti inilah yang sangat dibutuhkan, sebagai kekuatan yang kerap menggetarkan musuh-musuh Islam. Tidak ragu apalagi malu menunjukkan keislamannya. Sikap nya yang tidak setengah-setengah dalam melakukan sesuatu, justru menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum kafir meski diingkari dalam hati mereka. Sungguh kita harus banyak belajar dari sikap Umar bin Khaththob. Pribadi yang sangat disegani oleh lawan maupun kawan, tidak pernah diremehkan oleh seorangpun, senantiasa bangga terhadap kebenaran yang diyakininya. Kekuatan fisik, keberlimpahan harta yang dimiliki dan ketaatan totalitas tercermin dari kepasrahannya kepada Alloh SWT, Sang Maha Segalanya-lah yang membuat sosok Umar bin Khaththob begitu pemberani, kharismatik dan powerfull. 

No comments:

Post a Comment