Wednesday, 30 October 2013

Alam pun berbahasa


www.santinabila.com
Pagi itu saya bersemangat ke pasar untuk membeli persediaan bumbu dapur yang saat itu sudah habis. Dalam angan, saya hendak kepasar agar dapat membeli bawang merah dan bawang putih yang ukurannya lebih besar daripada yang tersedia di warung atau penjual sayur yang biasa menjajakan dagangannya lewat depan rumah.
Sebab jika membeli di pasar, saya akan lebih leluasa memilih dan mendapatkan barang yang saya inginkan.

Saya mengendarai motor saat itu. Setelah memarkirkan motor di tempat yang aman. Saya pun masuk ke dalam pasar. Bawang merah dan bawang putih yang saya inginkan pun melimpah disana. “Saya akan mencari yang besar bentuknya”, gumam dalam hati saya. Namun entah mengapa, setelah melewati beberapa penjual bumbu dapur, kaki saya seolah terhenti untuk membeli dari seorang ibu penjual bumbu dapur. Saya lupa kriteria yang saya inginkan, saya membeli bawang merah dan bawang putih dari ibu penjual tersebut. Seketika saya sudah membayar belanjaan. Tubuh saya berpaling dan melangkah untuk melanjutkan membelikebutuhan yang lain, saya melihat begitu banyak bawang putih yang dijajakan penjual di sebelahnya, dengan harga yang sama namun ukuran yang jauh lebih besar daripada yang saya beli. Padahal tadi, perasaan saya tidak lihat. Hehehee...

“itulah yang namanya rezeki” gumam dalam hati, ketika Alloh berkehendak memberikan rezeki kepada ibu tadi, seolah kaki saya dituntun untuk kearahnya. Sungguh tak bisa di definisikan oleh akal manusia yang terbatas. Rezeki itu given, rezeki itu pemberian dari Alloh kepada siapapun yang Ia ehendaki. Saya pun tersenyum sendiri merespon dialog internal dalam diri sendiri.

Setelah selesai, sayapun melangkah ke parkiran motor, namun sekali lagi, alam pun bercengrama dengan saya. Tiba-tiba, pergelangan punggung tangan kiri saya terkena kotoran burung. Pas di perbatasan antara baju dan kulit tangan. Saya pun masih dapat merasakan hangatnya kotoran burung itu. Saya mendongak ke atas melihat burung yang telah buang kotoran sembarangan, namun sayangnya saya tidak menemukannya, burung itu sudah terbang jauh. Begitu luas permukaan pasar ini, apalagi untuk sebuah kotoran burung. Mengapa harus tepat di kulit saya, seketika saya teringat, cara efektif dalam belajar adalah melibatkan semua panca indra. Saya pun tersenyum.

Ternyata pagi itu, saya dapat pelajaran, bukan dari guru, bukan dari orang tua, bukan dari motivator, melainkan langsung dari sang pencipta, dengan pelantara alam yang seolah menyampaikan pesan tertentu. Bahwa harta bukanlah ukuran kemuliaan seseorang, Harta hanyalah pemberian Alloh, tak mengenal status pendidikan, keturunan, usia atau apapun. Harta mutlak pemberian Alloh.
Terimakasih ya Alloh atas pelajaran yang akan saya ingat sebagai bekal mengarungi kehidupan ini....



2 comments: