Friday, 26 July 2013

Perasaan Tidak Diciptakan Untuk Memilih


www.santinabila.com
Katanya hidup ini bagaikan sebuah ujian sekolah jenis mutiple choice, dimana kita harus memilih salah satu jawaban yang tepat. Semakin banyak jawaban yang benar, maka nilai ujian kita pun bagus. Begitupula dengan kehidupan, semakin banyak kebenaran yang kita pilih maka kebahagiaanlah sebagai imbalannya.
Tak jarang pilihan yang hadir dalam hidup ini begitu membingungkan, begitu sulit, terlebih jika ada dilema antara akal dan perasaan. Mana yang akan dipilih??

Menurut pemahaman saya, sebuah perasaan tidak diciptakan untuk memilih. Perasaan tidak dapat berfikir. Akal lah yang berfungsi memilih pilihan yang akan di putuskan. Perasaan dibentuk berdasarkan pengalaman hidup, lingkungan, prinsip-prinsip yang diyakini (belief) dan kecendrungan (muyul) yang ditanamkan sejak kecil. Terlepas benar dan salah tentang sebuah perasaan, karena memang perasaan tidak mengerti dan tak punya sebuah alasan atas sebuah pilihan. Perasaan begitu jujur dengan apa yang dirasa. Sedangkan akal mampu memilih dengan berfikir dari fakta dan informasi yang bersemayam dalam otaknya. Perasaan hanya berfungsi untuk menguatkan akal akan sebuah keputusan yang akan di ambil.

Pada saat memutuskan ingin menikah, sayapun menggunakan akal dalam memutuskan, dengan pertimbangan utama agama yang baik. Perasaan saya langsung menyetujuinya, meskipun menjelang akad nikah perasaan saya agak mengganjal. Karena kedua orang tua suami tidak mau hadir tanpa alasan yang jelas dan tak masuk akal. Jika ditanya, apakah saya diterima atau direstui? Saya jawab iya. Mereka merestui.

Dalam hal ini, akal saya sama sakali tidak perduli dan tak ambil pusing, meskipun perasaan berteriak, mengapa saya diperlakukan seperti ini, seolah pernikahan kami tidak direstui dari pihak keluarga suami. Perasaan saya berbisik "Toh saya juga tidak hidup dengan orang tua suami secara langsung, yang penting suami saya bukan orang yang egois". Akal saya hanya memerintahkan saya untuk hormat kepada orang tua suami. Biar waktu yang akan membuktikan siapa yang lebih baik, itu saja prinsip saya.

Akhirnya, akal lah yang mengambil kendali. Untuk memutuskan untuk bersabar menghadapi ayah mertua yang sikap dan usianya sama sekali tak selaras. Akal pula yang mendorong untuk membuktikan suami pilihan saya yang akan mengobati sakit hati keluarga besar saya. Saya telah memilih suami dan saya akan bertanggungjawab, dengan memutuskannya untuk mencintainya tanpa sarat dan menghormatinya segenap jiwa raga. Karena tiket untuk masuk surga itu bernama suami. Saya akan berusaha mendapatkan tiket tersebut melalui suami yang sangat saya cintai.

www.quantum-student.com


No comments:

Post a Comment