Wednesday, 17 July 2013

Apakah Anak Kita Akan Menjadi Penolong Ke Surga Atau Pendorong Ke Neraka??


http://www.santinabila.com/2013/07/perasaan-tidak-diciptakan-untuk-memilih.html
Bekerja banting tulang, dari pagi hingga malam demi mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Menyediakan tempat tinggal yang layak untuk berlindung, mencukupi kebutuhan makan sehari-hari, memberi pakaian yang agar aurat seluruh keluarga tertutup dengan sempurna. Ternyata tidak lah cukup. Namun, akan menjadi lebih dari cukup, seandainya tidak ada hari kebangkitan
(hari kiamat). Kenyataannya, kita hidup tidak hanya selesai di dunia. Melainkan ada hari dimana, semua yang sudah kita lakukan selama di dunia akan dimintai pertanggungjawaban.

Sebagai orang tua, Alloh SWT menitipkan anak kepada kita, yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban selayaknya sebuah titipan (amanah). Untuk itulah, seorang anak akan dididik agar menjadi anak yang sholih/sholihah. Memiliki anak yang sholeh/sholihah merupakan dambaan setiap orang tua. Sebab, doanya anak yang sholih/sholihah tak terbatas dimensi waktu, akan terus mengalir walaupun kedua orang tuanya sudah tiada.

Memaknai sebuah arti kata “titipan” adalah seseorang menitipkan (mengamanahkan) sesuatu kepada kita untuk diambil di kemudian waktu yang sudah ditetapkan. Selama jangka waktu penitipan, sebagai seorang yang dapat dipercaya, pasti menjaga dan merawat titipan tersebut, hingga waktunya titipan itu diambil. Begitu pula anak yang ada dengan kita saat ini. Anak merupakan milik Alloh SWT yang dititipkan kepada kita saat ini, hingga waktu yang telah ditetapkan. Alloh SWT mempercayakan kita untuk dapat menjaga dan merawat anak yang telah dititipkan.

Selayaknya bagi seorang yang sudah dipercaya, ketika titipannya diambil, dalam keadaan yang terpelihara dan baik. Maka sang penitip pun akan memberikan imbalan/hadiah, karena sudah berkorban menjaga amanah yang sudah dipercayakan. Sebaliknya, sang penitip akan marah besar, ketika titipannya diambil dalam keadaan rusak dan tak berharga lagi. Bukan hadiah yang akan diberikan, melainkan hukuman karena lalai menjaga titipan yang sudah dipercayakan.

Begitupula dengan Alloh SWT, akan memberi hadiah berupa syurga yang sudah dijanjikan kenikmatannya, kepada orang tua yang mampu mendidik, menjaga dan merawat anak dengan baik sesuai kehendak Alloh SWT, menjadi anak yang sholih/sholihah. Sebaliknya Alloh akan murka, ketika anak yang sudah diamahkan menjadi brutal dan pembangkang terhadap aturan Alloh SWT. Bersiaplah bagi orang tua yang tidak amanah terhadap titipan anak ini, dilemparkan ke neraka yang siksanya tak ada seorangpun yang mampu membayangkan.

Beruntunglah orang tua yang memiliki anak yang sholih/sholihah, yang dengan enteng melaksanakan perintah-perintah Alloh SWT, sekaligus menjauhi larangan-Nya. Anak sholih/sholihah tidak dilahirkan dengan sendirinya. Melainkan melalui serangkaian proses panjang, dari mulai merangkul seorang anak sebagai sahabat/partner yang dihargai juga menjaga lingkungan pergaulan anak. Simpul semua itu berada dalam sentuhan
wanita mulia yang biasa disapa bunda, yang mampu menjadikan dirinya sebagai pencetak generasi yang tangguh.

Ironis memang, ketika ada orang tua yang memarahi anak ketika prestasi di sekolahnya memalukan, namun baik-baik saja, seolah tak terjadi apa-apa, ketika anaknya yang sudah usia baligh belum bisa membaca Al-Qur’an dan akhlaqnya semau sendiri. Orang tua rela mengeluarkan biaya berapapun demi meraih kepuasan prestasi anak yang mereka inginkan. Sekolah favorite, les/kursus di tempat ternama, tidak puas dengan itu semua, guru private pun didatangkan. Demi sebuah nilai yang diinginkan, yang dapat membanggakan kedua orang tuanya di hadapan koleganya.

Salahkah keinginan orang tua yang menginginkan anaknya pandai dengan prestasi yang membanggakan? TIDAK!! Sama sekali tidak salah, bekal itu dapat membantu sang anak hidup layak di kehidupannya kelak. Anak akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan dengan gaji layak. Namun, pertanyaan penulis seperti di awal bahasan, “apakah hidup selesai di dunia saja?? Tidak adakah hari akhirat??”.  Pertanyaan yang juga bisa jadi bahan perenungan untuk kita semua, “Pendidikan seperti apakah yang Alloh SWT inginkan terhadap titipannya (anak)??” “Apakah pendidikan yang sudah kita bela mati-matian diterapkan terhadap anak kita sudah sesuai dengan yang Alloh mau??”

Saya tidak menampikkan anak perlu bekal untuk hidup di dunia yang penuh dengan kompetensi, terlebih zaman ini. Tidakkah fokusnya diberatkan kepada pembentukan anak yang sholih/sholihah, tanpa menyampingkan prestasi akademik? Hidup di dunia hanya sebentar dibanding kehidupan di akhirat yang kekal selamanya. Apakah memiliki anak berprestasi di bidang akademiknya, menjamin akan menjadi anak sholih/sholihah??

Wallah a’lam bi ash-shawab []


www.quantum-student.com

2 comments:

  1. bagusnya se kesimbangan antara ilmu dunia dan akhirat ya :) Jadi ortu yang peduli dengan pendidikan baik nilai akademis maupun nilai-nilai islami (akhlak) si anak :)

    ReplyDelete