Tuesday, 30 July 2013

Akhir dari Sebuah Perjalanan


http://www.santinabila.com/2013/07/akhir-dari-sebuah-perjalanan.html
Sebuah kejadian yang sudah berlalu jika diceritakan saat ini, hanya membutuhkan waktu jauh lebih singkat daripada waktu yang sudah dihabiskan selama kejadian tersebut berlangsung. Misal, bercerita pengalaman pada selama kita SD yang telah menghabiskan waktu 6 tahun, hanya dengan bercerita kurang lebih 30 menit
saja kita sudah menyelesaikan kisah yang terjadi selama kurun waktu 6 tahun tersebut, benar??

Hal itu membuktikan, keterbatasan daya ingat kita. Dan hal-hal yang melibatkan emosi sajalah yang mampu kita ingat dengan kuat dalam ingatan kita. Kebahagiaan, kesedihan, Kesenangan, kekecewaan serta perasaan yang melibatkan emosi secara langsunglah yang mampu kita ingat dan sulit sekali dilupakan.

Entah mengapa, saya ingin mengingat kejadian apa saja yang sudah saya alami selama masa hidup. Siapa saja kah orang yang pernah menorehkan warna dalam hidup saya. Apa saja yang sudah saya kerjakan selama ini. Siapkah saya, jika tanpa diduga Alloh memerintahkan izroil menjemput saya. Apa yang akan saya tinggalkan untuk orang-orang yang sangat mencintai saya? lantas, cukupkah bekal yang akan saya bawa dalam menempuh perjalanan yang sangat panjang nanti??

Ketika jasad terbujur kaku, adakah orang yang akan kehilangan saya? Menangisi dan mendoakan saya? Bagaimana expresi wajah orang-orang yang sangat saya cintai mengurus jenazah saya kelak? Atau bahkan adakah orang yang bergembira atas kepergian saya??

Yaa Robbii... sungguh, hambamu ini tak pernah meminta umur yang panjang, pinta hamba hanya memohonkan umur yang bermanfaat. Jika umur yang telah kau amanahkan ini hanya menambah beban dosa saja, merugilah hamba. Belum lah hamba mampu membalas kebaikan orang-orang yang telah ikhlas berbuat baik kepada hamba, baik itu yang hamba sadari ataupun tidak. Balaslah Yaa...Robbii. Balaslah... Balas dengan kebaikan yang berlipat.

Hamba berterimakasih atas kesempatan hidup yang telah engkau berikan, berterimakasih dengan kedua orang tua yang telah engkau pilihkan, berterimakasih untuk suami yang telah engkau anugrahkan, berterimakasih atas pembelajaran hidup lewat serentetan cobaanmu. Bagaimana jika engkau meminta pertanggungjawaban atas nikmat yang telah engkau titipkan tersebut? 

Sedang hamba, belum dapat memberikan senyum kepada kedua orang tua hamba, mereka masih banyak menangis karena mereka tak mampu menolong/meringankan cobaan yang telah engkau pilihkan kepada hamba. Terlebih kepada suami, masihlah jauh predikat istri yang sholeh tersemat dalam nama ini. Sering kali, hamba berkata, tiket surga itu bernama suami. Namun, khilaf terbesarpun tanpa disadari terus ditorehkan kepada suami. 

Maafkan hambamu ini yaa Alloh, maafkan kesombongan hamba, yang kerap menantang cobaanmu, bahwa hamba mampu menerima cobaanMu, yang sesungguhnya hamba tidak sanggup ya.. Alloh... Sungguh hamba tidak sanggup ya.. Alloh... Hambamu ini lemah, semua kekuatan berasal dari Engkau, hamba hanya menggantungkan hidup mati kepadaMu.

Ketika jasad sudah ada di dalam kubur, perlahan namun pasti taburan tanah merah pun sempurna menutup jasad ini. Berakhirlah perjalanan di dunia yang fana ini. Berakhirlah senyum ceria, berakhirlah tatapan tajam penuh makna, berakhirlah cacatan perjalanan hidup santi. Perjalanan hakiki telah menanti.

www.quantum-student.com

No comments:

Post a Comment