Wednesday, 12 June 2013

MUHASABAH

Bagaimana perasaan anda, ketika melakukan kesalahan dan membuat kedua orang tua kecewa sehingga membuat wajahnya bersedih serta dihiasi linangan air mata? Sesosok yang rela memberikan apapun yang terbaik untuk kebahagiaan dan kebaikan anda. Bahkan
nyawa pun rela ditukar, jika diperlukan agar kesulitan yang anda alami dapat sirna dan berganti kebahagiaan.
Kita akan meratap bahkan bersimpuh memohon maaf mereka. Sangat tidak pantas, cinta kasih yang tulus dibalas dengan mengecewakan orang yang begitu... (ah.. saya tidak sanggup melukiskan kata yang tepat). Pantaslah kiranya Alloh mengkategorikan termasuk dosa besar durhaka kepada kedua orang tua. Penyesalan selalu datang di akhir. Lagi-lagi cinta orang tua yang tak terbatas, mereka akan memaafkan betapapun kesalahan kita, manakala kita menunjukkan rasa bersalah dan permohonan maaf yang sungguh kepada mereka.

Jika orang tua, dalam hal ini makhluk mampu membuka tangannya untuk sebuah kata maaf yang tulus dan ikhlas. Begitu pun Sang Pencipta, yang berbeda sifatnya dengan makhluk PASTI akan memaafkan hambanya yang berlumur dosa. Sifatnya yang Maha Pemaaf (Al-Affuwun) lah yang selalu kita harapkan. Sengaja atau tidak, setiap detiknya diri ini selalu saja mendzolimi diri sendiri, dengan berbuat dosa, melanggar ketentuan yang telah ditetapkan. Astaghfirulloh alAdzim....

Bekal ilmu yang bersemayam di hati, kadang tak berarti menepis rayuan setan yang selalu menggoda diri. Tuhanku, hamba mu lelah... Ya robbii.... Berat ujian hidup ini, lemah diri ini... khilaf terus saja dilakukan tiap waktu, dalam bentuk dan versi yang berbeda, tetap saja dosa. Sedangkan ibadah yang kami kerjakan, belum tentu kualitasnya di pandanganmu ya Allooh... Virus-virus riya, sombong dan tak iklas yang tak kasat mata selalu menjangkiti hati dan fikiran. Amalan apa yang harus aku bawa untuk menghadapmu kelak, Ya robbii....

Terkadang, terlintas dalam hati, mungkin mati adalah solusi yang pasti. Ya... Pasti mengundang murka Ilahi. Sehingga Alloh dengan mudah melempar tubuh ini ke dalam siksa nerakanya. Begitu hingar bingarnya dialog pada diri ini, manakala ujian mendekat disaat keimanan sebagai benteng tercekat. Tuhanku, hambamu lelah ya robbii... Waktu yang singkat ini, terasa berabad manakala keinginan dan kenyataan tak berjalan seiring.

Mengapa diri ini tak pandai bersyukur dengan apa yang telah Engkau berikan untuk ku. Apa yang sebenarnya aku inginkan? Apa sebenarnya yang aku cari? Kepuasan diri atau ridho ilahi?? Ntahlah.. aku sendiri tak mampu menjawab. Tekanan hidup ini begitu menghimpit, memaksa menarik diri ini dalam keramaian, ke tempat dimana aku seorang diri dan tersesat dalam hutan belantara yang luas, gelap dan dipenuhi hewan liar. Rasanya aku tak mampu berfikir lagi.

Ampuni dan Maafkan diri ini Ya robb... Tuhanku, kuatkan serta lindungi aku dari sifat putus asa... Kala ku ingat cintaMu pada ku, rezeki yang telah kau beri untuk ku tak terhitung. Malu rasanya... Tak pantas rasanya, aku mengharapkan surga dengan segala kenikmatan yang telah Kau janjikan. Terlebih jika ku melihat diri ini. Namun, aku juga sangat takut padaMu, karena Engkaulah pemilik neraka, yang siksanya tak terbayangkan. Bagaimana aku sanggup menerima siksa api neraka Mu, menerima ujian yang tak seberapa ini saja rasanya sudah tak sanggup.

Dunia ini hanya panggung sandiwara, semua ada skenarionya. Aku sadari, tak berhak mendikte Alloh seperti kemauanku, aku tau diri siapa diri ini. Aku hanya meyakini, yang terbaik dalam pandangan ku, belum tentu terbaik dalam pandangan Mu. Begitu pula sebaliknya. Aku hanya memohon, jangan kau sesatkan aku, setelah kau berikan jalan keimanan.


No comments:

Post a Comment