Wednesday, 22 May 2013

Sihir Kata-Kata

Di sebuah pedalaman hutan amazon. Penduduk setempat ingin hidup dan mendiami daerah tersebut. Namun mereka binggung, bagaimana menyingkirkan pohon-pohon besar yang menghalangi pendirian rumah, atau membuka lahan untuk perkebunan, guna mensuplai kebutuhan hidup mereka. Celakanya, pada saat itu belum ditemukannya gergaji listrik untuk menebang pohon-pohon besar.
Mereka hanya menggunakan alat-alat yang sangat sederhana, yang tidak mungkin menebang pohon hutan yang besar-besar dan tinggi dalam jumlah banyak.

Mereka berfikir keras, bagaimana cara menumbangkan pohon besar tersebut dengan cara lain. Salah satu dari mereka berinisiatif, mengumpulkan semua penduduk pada pagi hari untuk berputar mengelilingi lahan yang pohonnya ingin ditumbangkan, sambil meneriaki kata-kata kasar dan menyakiti pohon. Setiap pagi mereka melakukan aktivitas tersebut. Sungguh menakjubkan, setiap hari pula daun-daun dari pohon-pohon itu berguguran, seolah tak bersemangat untuk hidup. Lama kelamaan pohon-pohon itu kering, dan mati dengan sendirinya. Sehingga memudahkan penduduk untuk menumbangkannya.

Pernah menyaksikan pertunjukan dari gedung MPR, dimana “wakil-wakil rakyat” menirukan kelakuan yang biasa dilakukan anak TK?? Semua berawal dari kata-kata yang membuat salah seorang terpancing emosi dan membalas dengan mengeluarkan kata-kata yang tak kalah sengit yang mengundang emosi pula. Bagibeberapa orang yang tak pandai mengeluarkan kata-kata, maka otot lah yang bicara. Terjadilah “adegan” yang sangat tidak pantas dilakukan oleh “dewan terhormat” dengan intelektual yang katanya diatas rata-rata masyarakat yang diwakilkannya. Ternyata intelektual dapat dikalahkan oleh kata-kata yang kasar dan menyakitkan.

Beberapa waktu lalu, diberitakan seorang anak SD nekat bunuh diri. Semula anak itu anak yang periang, ceria dan penuh semangat. Akibat perceraian kedua orang tuanya, si ibu sering melampiaskan emosi kepada anaknya karena kesal dengan bapaknya. Sering kali anak itu menerima caci maki yang tidak jelas, kata-kata yang kasar dan menyakitkan kerap mampir ditelinganya. Sontak, si anak berubah menjadi pendiam, tertutup, pandangan matanya kosong, sulit konsentrasi dan kepercayaan dirinya lenyap.

Tidak cukup di rumah si anak di marahi, disekolah pun demikian. Karena kondisi psikologis yang menurun tersebut, berdampak merosotnya nilai-nilai di sekolah, sehingga gurunya pun turut berpartisipasi memarahi anak itu. Tak tahan menghadapi situasi dimana tidak ada orang berpihak pada si anak, bunuh diri adalah solusi terbaik yang ada di kepala seorang anak yang terdzolimi itu. Sekali lagi, fakta menunjukkan kata-kata yang kasar, buruk dan menyakitkan dapat menyihir seseorang bahkan pohon pun untuk berubah bahkan hingga mengantarkannya pada kematian.

Hati-hatilah dalam memilih kata-kata. Jikalau luka karena pisau mudah sembuh, namun tidak demikian dengan luka karena kata-kata. Terutama perlakuan terhadap anak-anak, kata-kata yang sering diucapkan menentukan masa depan mereka. Gunakanlah kata-kata positif, yang membangun kepercayaan diri anak, jadilah sahabat anak yang mampu memotivasi si anak agar bersemangat untuk bergerak meraih prestasi terbaiknya.

Kebiasaan/habit orang tua yang tidak sadar mengeluarkan kata-kata kasar dan menyakitkan ketika marah yang terus berulang, justru menancap kuat ke pikiran alam bawah sadar anak. Tanpa sadari pula orang tua lah yang justru sering menanamkan kata-kata negatif untuk anaknya. Hati-hati dalam berucap. Saya yakin bukan anda orangnya... ^^

www.quantum-student.com

2 comments: