Wednesday, 3 April 2013

Hakekat Kebahagiaan

Setiap orang mendambakan kebahagiaan, setiap orang pun berhak untuk bahagia. Permasalahannya, bahagia yang seperti apa yang ingin kita raih?? Memiliki harta yang berlimpah, mungkin itu sebagian besar jawaban orang ketika ditanya definisi arti kebahagiaan. Sebab dengan harta berlimpah, kita bisa membeli apapun yang kita inginkan. Tapi benarkah harta satu-satunya ukuran dari suatu kebahagiaan?

Mungkin sebagian orang lagi akan mendefinisikan kemerdekaan. Menjadi suatu kebahagiaan, ketika mereka diberi kebebasan untuk melakukan apapun, tanpa ada konsekwensi hukum apapun. Hidup bagaikan burung terbang yang bebas mengepakkan sayapnya kemanapun. Tanpa memperdulikan orang lain. Bebas se bebas bebas nya. Apakah benar, ketika kebebasan itu deberikan, akan mengantarkan kebahagiaan??

Fakta telah menunjukkan, bahwasannya memiliki harta yang berlimpah tidak menjanjikkan kebahaagiaan. Untuk apa harta yang berlimpah, tidur di rumah mewah namun hati gelisah, ada sesuatu yang tidak dapat dibeli untuk konsumsi hati, mengisi kekosongan hati. Ya... itulah yang akan dirasakan seorang yang kaya raya namun tak mengakui ada sang Pencipta yang memiliki sifat Maha Kuasa. Sebab perasaan mensucikan sesuatu merupakan kebutuhan untuk konsumsi hati agar tetap tenang. Orang kaya mungkin dengan hartanya bebas membeli apapun yang diinginkan, namun tidak untuk membeli ketenangan hati.

Begitu banyak orang yang mengkampanyekan hidup bebas, tak terikat, menghalalkan segala macam cara untuk memperoleh kebahagian. Namun, lagi-lagi kebahagiaan yang diperoleh pun menjadi semu. Tatkala, akibat keinginannya dalam berbuat dan mememilih suatu yang dianggapnya baik, mengantarkan kepada petaka. Zaman ini, betapa marak sex bebas yang mereka anggap hak azazi yang tidak boleh dicampuri pihak lain. Mengantarkan musibah yang sangat hebat. Jutaan korban melayang karena penyakit yang ditularkan. Sungguh ini menjadi aib nasional.

Bahwasannya Alloh sebagai pencipta, sekaligus sebagai pengatur. Alloh tahu pasti, apa yang terbaik untuk mahluk ciptaannya. Kepasarahan untuk tunduk dan mau diatur, juga merupakan fitrah manusia, yang bersifat lemah, terbatas dan membutuhkan sesuatu yang lain. Hanya islamlah yang menawarkan konsep kebahagiaan yang hakiki, yaitu ketika apa yang kita lakukan Alloh ridho. Disini sama sekali tidak tergambar hasil yang harus diperoleh, namun proses yang dijalani yang mengantarkan kepada keridhoan Alloh.

Alloh maha adil, semua makhluknya diberikan kebahagiaan yang berbeda. Kasih sayang Alloh tak terbatas, terkadang kitalah yang membatasi hal itu. Ada orang yang hidup di gubuk miskin, penghuninya bahagia manakala Alloh ada bersama mereka. Akan lebih sempurna juga kebahagiaan si orang kaya, ketika Alloh berada dalam hatinya, dengan selalu tunduk dan patuh dan mengakui kelemahannya dihadapan Alloh. Senantiasa bersyukur dan menyadari harta yang dinikmatinya hanyalah titipan, yang akan dimintai pertanggungjawaban akan dari mana dan kemana harta tersebut dibelanjakan.

www.quantum-student.com  


No comments:

Post a Comment