Wednesday, 17 April 2013

Life Style

Pernahkah menjumpai pasangan kekasih yang usianya sangat dini?? Seberapa sering dan berapa banyak pasangan muda tersebut saat ini dapat kita jumpai?? Fenomena apakah sebenarnya yang terjadi pada generasi penerus saat ini?? Bukan maksud saya membenarkan pasangan kekasih yang sudah dewasa tanpa ikatan berpacaran,
namun saya hanya ingin menyoroti virus pacaran itu sudah masuk semua usia, bahkan anak SD. 

Zaman berganti, gaya hidup (life style) masyarakatnya pun berubah. Jika dulu anak usia SD belum mengenal rasa suka pada lawan jenis, tidak untuk hari ini. Miris rasanya, melihat pergeseran prilaku anak-anak sekolah saat ini, jika dibanding zaman sebelumnya. Beberapa anak SD, pernah saya mencoba mencari tau dan bertanya dengan memposisikan diri saya sebagai teman mereka. Saya coba bertanya seputar pacaran, jawaban mereka sangat mengejutkan saya. Ani, sebut saja nama salah satu anak yang saya ajak bicara. Saat ini Ani duduk di kelas 4 SD, dia salah satu siswa saya. Dia menuturkan panjang lebar alasan mereka mencoba menarik perhatian lawan jenisnya untuk di jadikan pacar.

Dari kesimpulan yang saya tangkap, ternyata, motivasinya sederhana saja. Mereka hanya ingin dianggap dan diterima oleh teman-temannya saja, mereka ingin mendapat predikat "anak gaul" yang tidak ketinggalan zaman. Aduuuhhh.... Tuapee deeh... Ketika saya tanyakan, "memang zaman mau mengajak kamu kemana? hingga kamu tidak mau ketinggalan zaman?" Dengan cengengesan dia hanya memperlihatkan gigi susunya yang masih belum copot semua. Dia sama sekali tidak tau harus menjawab apa?? Pertanyaan ini kerap saya lontarkan kepada siapapun yang memiliki gaya hidup yang katanya "modern". Namun, sayangnya lagi-lagi jawabannya hanya senyum saja. Anda mau membantu saya menjawabnya?? hehehee...

Mungkin untuk sebagian orang menganggap sepele, bahkan hanya menganggapnya main-main saja, hanya cinta monyet katanya. Namun, jika kita cermati lebih dalam lagi aktivitas yang akan dan sudah dilakukan dalam aktivitas pacaran tersebut, apakah baik untuk mental dan psikologi seorang anak? Kepribadian sebagai taruhannya. Pada saat masih kecil, seorang anak yang sudah dibiasakan mengumbar nafsunya, bagaimana kelak ketika dewasa? Manakala, cinta bertepuk sebelah tangan serta menganggap itu sebuah beban berat untuk seorang anak yang tak tau bagaimana keluar dari masalah tersebut. Kira-kira apa yang akan dia lakukan?

Jika dilihat dari sudut pandang tugas utama seorang anak adalah belajar, bagaimana konsentrasi terhadap pelajaran, jika isi kepalanya hanya diisi oleh sebuah lamunan akan cinta? Belum lagi konflik yang akan terjadi dengan orang tua. Konflik kepentingan akan beradu, orang tua menginginkan anaknya berprestasi, sedang si anak sebaliknya, bahkan menganggap orang tuanya tidak perhatian kepadanya, tidak mau tau apa yang terjadi pada anaknya.

Pandangan islam jelas, baik orang dewasa apalagi anak-anak, siapapun juga, dilarang mendekati zina. Sudah jelas dan terang disebutkan dalam al-Qur'an. Aktivitas pacaran adalah upaya memancing syahwat dan mengumbar hawa nafsu yang akan mengarah pada zina. Dan Alloh jelas-jelas melarangnya. Bukan hanya gaya hidup pacaran saja yang memprihatinkan, gaya hidup hedonisme pun menyatu erat dalam pergaulan anak-anak zaman ini

Dalam kesempatan ini, saya mengajak semua termasuk saya pribadi untuk perduli akan generasi penerus ini. Zaman yang hanya akan menuntun kepada kemurkaan Alloh harus segera dihentikan, diluruskan dan dikembalikan sebagaimana yang dikehendaki Alloh. Jangan biarkan anak-anak kita terseret zaman yang hanya akan mengantarkan kepada kehancuran.

 www.quantum-student.com