Wednesday, 6 March 2013

SENDIRI

Sendiri, pada saat-saat tertentu memang kita harus sendiri. Saat kematian datangpun kita akan sendiri menghadapinya, menemui ajal, merasakan gelapnya liang kubur, hingga mempertanggungjawabkan semua apa yang sudah kita lakukan selama di dunia. Tak ada ceritanya, menghadapi hari pertangungjawaban beramai-ramai.
Bahkan orang terdekat kita pun tak kan  mungkin menemani kita. Tak perduli sepandai apapun kita bergaul serta memiliki banyak teman.

Pemahaman seperti ini, sebenarnya bukan sesuatu yang baru, karena semua orang pun pasti tau. Ya.. memang sendiri, untuk apa dipermasalahkan. Dihadapi saja. Mungkin itu pula yang terbersit, ketika sahabat membaca tulisansaya ini.

Entahlah, kapan mulai munculnya gambaran tentang kesendirian menjadi visualisasi yang terkadang muncul di kepala saya. Nmaun jika saya ingat, dan jika tidak salah ingat. Perasaan ini pertama kali saya alami, pada saat saya menjalankan ibadah haji pertama saya bersama kedua orang tua. Saat itu, pada saat prosesi lontar jumroh, disiang hari yang terik/ Sinar matahari saat itu seakan memaksimalkan cahayanya, sehingga sangat terang dan menyilaukan mata.

Kondisi pelontaran jumroh saat itu, tahun 2000, tidaklah serapi sekarang ini, yang dibuat bertingkat. Saat itu, saya bersama jamaah haji yanglain menunaikan prosespelontaran batu ke dalam sumur. Karena begitu padatnya jamaah haji, dari berbagai bangsa dengan postur tubuh yang beragam pula, saya yang pada awalnya menggandeng erat tangan ibu saya, entah mengapa terlepas. Dan tepat di depan saya persis, sesosok laki-laki bertubuh kekar, tinggi, berkulit hitam legam, berdiri membelakangi saya seraya melontar beberapa batu, dan berteriak takbir.

Saya kesulitan menjangkau sumur, karena letaknya cukup jauh dari saya berdiri. Dan sesosok tadi mempersulit saya untuk melempar, walaupun saya sudah melompat. Pada kondisi tersebut, saya merasakan ketakutan yang amat sangat. Saya merasa sendiri di suatu tempat yang sangat gelap. Terlintas gambaran tentang kematian dan gelapnya kubur yang harus saya hadapi sendiri. Sesaat setelah itu, saya pun memanggil-manggil ibu saya dengan deraian air mata. Saya berteriak “ummi...ummi... ummi...” diikuti linangan air mata.

Ajaibnya, walaupun dalam keadaan yang sangat ramai, dengan teriakan takbir yang bersahutan oleh ribuan jamaah haji. Ibu saya, mampu mendengar dengan jelas teriakan saya yang terpisah cukup jauh saat itu. Dan dengan refleks meraih, memeluk dan menghapus air mata saya. Itulah keajaiban cinta seorang ibu, yang dapat mendeteksi buah hatinya yang sedang meminta perlindungannya.

Setelah kejadian tersebut, perasaan “sendiri” seperti itu terkadang hadir kembali. Ditengah keramaian atau pada saat bersama keluarga, atau kadangsaat mengendarai mobil seorang diri. Sering pula saya nyasar, di daerah yang saya hafal luar kepala hingga ke jalan alternatifnya. Ketika tersadar, jadilah saya mentertawakan kebodohan diri sendiri.

Rasa “sendiri” muncul tiba-tiba, yang ingin saya lakukan ya... sendiri. Padahal, itu bukan sifat asli saya yang cendrung bergaul bersama yang lain. Perasaan ini hadir ketika, saya “merasa” tidak lagi didengar, kurang direspon, dan merasa diabaikan.  Menulis adalah salah satu cara saya, mengalirkan rasa sendiri tersebut. Karena saya tau, layar LCD di depan saya tak mungkin merespon saya.
Yah... itulah hidup, penuh dengan rasa. Nikmati saja.....

www.quantum-student.com