Wednesday, 13 March 2013

Kasih Sayang Alloh

Menunaikan ibadah haji merupakan salah satu rukun islam bagi yang mampu,  yang sangat diimpikan oleh jutaan kaum muslim, selain menunaikan rukun islam yang ke 5, Alloh telah berjanji, jika ibadah hajinya di terima(mabrur) maka Alloh akan membalasnya dengan syurga. Siapapun pasti menginginkan syurga, sebagai kehidupan yang kekal.
Tak heran, tiap tahun jamaah haji, bertambah banyak. Walaupun ongkosnya tiap tahun bertambah mahal. Apapun dilakukan/dikorbankan demi memenuhi panggilan berhaji, yang terkadang setengah memaksakan diri.

Bersyukur di sela hidup saya, Alloh memberikan kesempatan dapat menunaikan ibadah haji pada usia yang relatif muda, 20 tahun usia saya saat itu, saya diperkenankan melihat secara langsung kesakralan tempat bersejarah yang mewah nan agung itu. Yah, saya masih ingat pada suatu sore, ayah berkata “mau ikut bapak ngga?”saat itu ayah sedang sibuk mengurus dokumen perjalanan haji. “naik haji, pak?” jawabku dengan antusias. “iya, aa (panggilan kecilku) mau ikut bapak naik haji ngga?” Pertanyaan bapak di pertegas dan di perjelas. Sontak kegembiraan langsung terpasang di wajah ku, namun segera kegembiraan itu dipotong dengan mempertanyakan kondisi saya yang masih kuliah, semester 4 persisnya, dengan pertanyaan, “bagaimana dengan kuliahnya?” Saya hanya tersenyum untuk meyakinkan bapak bahwa kuliah bisa diatur, saya tak akan menyanyiakan kesempatan istimewa ini.
 
Ibadah haji, merupakan ibadah fisik. Bersyukur saya sekali lagi dapat menunaikannya pada usia yang relatif muda. Banyak jamaah yang sudah sepuh, saya melihat begitu kerasnya perjuangan kakek nenek ini. Walaupun semangat mereka tidak bisa dibandingkan dengan yang masih muda. Namun apadaya, tubuh mereka banyak mengeluh sakit ini dan itu.

Banyak tempat-tempat bersejarah dan mustajabah, dimana jika berdoa di tempat-tempat tersebut. InsyaAlloh permohonan apapun akan dikabulkan. Sangat melekat dalam ingatan, doa apa yang selalu saya panjatkan disana. Pertama dan yang utama adalah permohonan pengampunan dosa yang selama ini, sengaja atau tidak yang sudah saya lakukan. Tak lupa karena kondisi saya yang masih berstatus mahasiswa dan belum menikah, pasti yang diinginkan adalah dipermudah proses menyelesaikan kuliah dan dipermudah dalam menemukan tambatan hati yang akan menjadi suami serta berdoa kelak mengunjungi baitulloh kembali bersama suami terkasih. Doa tersebutlah yang selalu saya panjatkan di tempat-tempat mustajabah.

Waktu berlalu, satu demi satu permohonan saya terkabul, Alloh mudahkan saya dalam proses kelulusan, dan yang paling mengesankan saya, pertemuan jodoh yang saat itu sama sekali belum terlintas di benak kesiapan untuk menikah, di tengah menjalani proses skripsi, seorang aktivis pemuda sholeh berwajah tampan, diberikan Alloh dengan begitu mudahnya. Nyaris tanpa perjuangan sama sekali. Akhirnya saat acara wisuda, saya telah memiliki suami. Tak pelak, teman-teman seangkatan tak percaya saya sudah bersuami. Saya yang tak pernah mengenal pacar, walaupun saya berkuliah di habitat yang mayoritas pria, saya mengambil jurusan teknik kimia. Alloh memang begitu baik dengan saya.