Wednesday, 12 March 2014

Bukti Cinta


Sesuatu yang dipilih PASTI yang terbaik menurut kita saat ini. Betul? Sesuatu yang dipilih PASTI yang kita sukai & sayangi saat ini. Betul? Sesuatu yang dipilih pasti diharapkan dapat memberikan manfaat lebih untuk hari esok. Betul?
Akan kah sesuatu yang special yang sangat kita sayangi, kita sukai dan yang kita harapkan.
Dengan sengaja dan tega kita sakiti, kita jerumus kedalam murka Alloh?
Dan kita tau serta membiarkan saudara kita hancur, padahal dia adalah orang baik yang amat kita sayangi dan harapkan?
Sebentar lagi ajang pemilihan presiden beserta caleg-calegnya. Mereka semua saudara seiman kita. Jangan lempar saudara kita dlm kemaksiatan sistem yang akan membuatnya hancur. Jangan korbankan orang baik demi alasan ataupun ketakutan yang sengaja ditiupkan aktivis-aktivis demokrasi. Premis-premis yang telah mereka create seolah bagi kita sebagai mayoritas muslim tidak punya pilihan selain ikut alur berfikir mereka, para aktivis demokrasi.
"Lihatlah karena banyak muslim yang golput, jakarta sebagai ibu kota dipimpin oleh non muslim!" Dengan nada menyalahkan, para aktivis muslim yang sudah terjebak dalam frame kacamata demokrasi pun mencari kambing hitam. "Apakah kita rela, kelak presiden yang memimpin negeri ini berasal dari non muslim pula?" tambahnya lebih sengit lagi. Belum lagi di peerkuat dengan fatwa yang dikeluarkan oleh MUI, yang menyatakan bahwa, "GOLPUT HARAM".
Pemimpin yang baik memang harus segera di pilih dan diangkat, sebagai warga negara kita memang harus wajib mesti perduli dengan permasalahan negara yang tak kunjung selesai. Dibutuhkan seorang pemimpin amanah yang mampu menyelesaikan semua problematika kehidupan saat ini. Hanya saja, selama sistem dan aturan main negeri ini TIDAK memungkinkan untuk seorang pemimpin amanah. Siapapun pemimpinnya PERCAYALAH tidak akan bisa berbuat banyak, selama sistem yang menaungi tidak berubah.Sudah banyak orang baik, ketika tercebur dalam wadah demokrasi akhirnya berakhir tragis, berada dalam penjara, nama baiknya hancur berkeping-keping, dll. Tidak ingin kan orang baik yang kita idolakan berakhir seperti itu???
Anggaplah pak Jokowi orang baik dan akan terpilih jadi presiden, dengan sistem seperti, jabatan presiden yang diembannya tidak akan berpengaruh banyak. Beliau akan terborder oleh kebijakan otonomi daerah, dan apalah saya tidak begitu mengerti. Bahkan jika merasa krisis pemimpin yang baik di negeri ini, jika saya boleh berandai, Bapak Presiden Soeharto hidup lagi, dengan usia muda dan fisik kuat. Niscaya apa yang pernah dilakukannya dulu, tak akan bisa dilakukannya lagi sekarang. Misalkan, Perintah/kebijakan dari pusat A, nanti sampai ke daerah bisa beragam penafsiran, bisa A+, A++, A-, atau bisa juga B, dan C. Mampukah kebijakan pusat mensolusikan masalah??? yup, benar. PASTI tidak akan selesai masalahnya, bahkan mungkin melahirkan masalah baru.
Pernahkah kita memakai kacamata yang berlensa hitam, berlensa biru, atau coklat? Apa yang terjadi dengan benda-benda di sekitar? Apakah warnanya berubah? didominasi oleh warna sesuai lensa kacamata yang kita gunakan?? Jika iya. Itulah maksud saya, ketika kita memakai kacamata hitam (anggap cara berfikir demokrasi) semua yang terlihat akanserba hitam berserta degradasi warna hitamnya. Lepaskanlah kacamata hitam tersebut. Ganti kacamata transparan (cara berfikir Islam) semua benda di sekeliling akan mengeluarkan warna aslinya. Lebih jernih dan tampak jelas. 
Keberhasilan & kesuksesan apapun PASTI meninggalkan jejak. Dalam hal ini Rosululloh telah meninggalkan jejak keberhasilan dan kesuksesan tersebut dengan sangat JELAS, 2/3 belahan dunia dikuasai islam, non muslim dilindungi haknya, sains dan teknologi melesat berada pada puncak kegemilangannya, dlsb. Ikuti jejak itu, Insya Alloh jejek tersebut akan mengantarkan pada tujuan akhir yang diinginkan. Sebuah kesuksesan yang sejati, yang Aloh Ridho didalamnya. 
Sedangkan Demokrasi jejak negara si Paman. Coba kita cermati dengan pikiran rasional dan terbuka. Jejak seperti apa yang sudah ditorehkan? Apakah jejak tingginya tingkat kriminalitas, atau tingginya tingkat perceraian dalam keluarga, karena keterbatasan pengetahuan saya, silahkan dicari dan dibandingkan dari sumber lainnya. Apakah sistem Islam akan sebanding dengan sistem demokrasi? Atau mungkin sistem demokrasi lebih baik dari pada sistem Islam?. Silahkan di kaji. :)
Jangan perdulikan opini pribadi saya yang tak berarti ini. Jika kita tidak mau mengganti kacamata yang pakai. Opini ini hanya akan menjadi bahan debat kusir yang tak menemukan solusi. Semua akan sia-sia. Opini ini saya buat hanya KHUSUS bagi orang-orang yang menyatakan keimanannya pada Islam. Sebab seseorang yang menyatakan iman kepada Alloh, pasti iman juga pada Rosululloh, dan Al-Quran sebagai kitab sekaligus handbook makhluk yang bernama manusia. Yang berisikan cara pakai dan merawat manusia agar tetap berfungsi maksimal dan tidak cepat rusak. Bagi yang tidak beriman dengan Islam, anda tidak wajib mempercayai opini ini.
Wallohu'alam bishowab
www.quantum-student.com 

No comments:

Post a Comment