Wednesday, 27 February 2013

Ketika Allooh Menyapa dengan Ujian

Tidak dapat dikatakan seseorang beriman, hingga Allooh menguji kesungguhan akan keimanan seseorang yang telah diucapkannya. Allooh akan menguji hamba yang dicintainya. Ada beragam reaksi dan respon ketika ujian menyapa. Setiap hamba diberikan ujian sesuai dengan kadar keimanannya. Dalam hal ini Allooh maha mengetahui. Semakin tinggi keimanannya maka ujian yang diberikannya pun
sesuai dengan level keimanan si hamba. Macam ujian pun berbeda bentuknya satu sama lain, ada yang di uji dalam kelapangan dan kesenangan, ada pula di uji dengan kesempitan dan kesedihan. Namun banyak yang terjebak jika diuji dengan kelapangan dan kesenangan.

Sungguh manusia adalah mahluk yang lemah, terbatas dan sangat tergantung terhadap sesuatu. Namun manusia diberikan akal oleh Allooh untuk dapat memilih dan menentukan pilihannya, yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya oleh yang memberikan akal.
Lalu apa hikmah dan peran yang harus dilakukan manusia tatkala berjumpa dengan ujian?  

Terkadang, manusia lebih menuhankan sesuatu atau seseorang dikala keadaannya terjepit. Banyak yang lupa, justru saat itulah manusia hanya butuh kasih sayangnya Allooh yang akan mengeluarkan dari masalah. Semakin banyak masalah, semakin sholat tidak khusu’, yang biasanya bangun untuk sholat malam, karena kelelehan siang hari nya mencoba keluar dari masalah yang menghimpitnya, menjadikan dia meninggalkan kesempatan untuk bermunajat kepada Allooh. Yang biasanya rajin beramal, dalam keadaan sulit, akalnya berbisik untuk meninjau kembali mengingat nominal yang tercetak dalam saldo tabungan. Terus dan terus menjauhkan dirinya kepada Allooh yang memberikan ujian yang sekaligus juga memiliki solusi.

Akal nya berfikir keras untuk menemukan jalan keluarnya, berbagai strategi dan ilmu andalan yang dimiliki dikeluarkan untuk menyelamatkan dari masalah yang tengah dihadapi. Namun apa yang didapat, justru Allooh semakin dilupakan. Akibatnya dia terjebak kedalam masalah yang terus bertambah, solusi yang diharapkan tak kunjung datang, semua rencananya berantakan. Dan dia pun kehilangan arah.

Itulah, jika kita terlalu sombong dengan akal yang notabene titipan Allooh, terlalu menuhankan akal, sehingga hati kita buta, tertutup untuk kembali tersadar bahwa kita masih memiliki Allooh yang maha segalanya. Inilah saatnya, kita tersungkur memohon ampun, dan mengakui bahwa kita sebagai hamba lemah, terbatas dan membutuhkan Allooh. Semoga setiap ujian yang datang justru mendekatkan kita terhadap Allooh, bukan malah menjauhkan...