Wednesday, 20 February 2013

Kekuatan Cinta Menembus Batas dan Waktu

11 waktu berlalu, rentang hatiku kehilangan. Saat kututup mataku dari semua pandanganku, dan bila mengingat matamu selalu ada cinta dan ketulusan hati yang mengalir lembut meresap tak bersisa dalam hatiku. Hanya kenangan manis lah yang kau tinggalkan untuk ku. Belum sempat kau lihat mimpi-mimpi dan harapan yang kau inginkan  dari ku terwujud.

Masih ku ingat, kala ku bermanja, tidur dipangkuanmu, kau selalu membelai rambutku dan bercerita pengalaman hidupmu yang keras. Yah,,, memang kau seorang wanita tangguh,
yang berjuang hidup menaklukkan kota jakarta yang kejam tak pandang bulu ini. Diakhir cerita tak lupa kau selalu berpesan agar aku menjadi anak yang pinter, agar pengalaman getir yang dialami nenek ku tak terjadi padaku, agar aku dapat mewujudkan apapun yang aku inginkan. Oleh sebab itu, nenek selalu menyarankan ku untuk selalu rajin belajar dan sekolah yang tinggi.

Wanita tangguh yang sangat berarti ini selalu menganggapku istimewa, dia selalu menanamkan kepercayaan diri, dia selalu menguatkan aku, dia selalu memanjakan ku, dia pasti akan membelaku dari siapapun, termasuk ibu ku. Mungkin cinta yang diberikan nenek terhadap diriku buta, dan mungkin ini pula yang membuat diriku selalu mengingatnya. Kini aku tak memiliki orang yang akan melindungi dan mengerti aku seperti dirimu. Namun aku belajar sesuatu dari ini semua, bahwa rasa cinta yang besar mampu memberi perlindungan, mampu memberikan rasa aman, kekuatan dan keberanian kepada orang yang amat dicintai, entah dari mana asal energi itu. Aku tak mengerti, namun hanya mampu aku rasakan dan aku lakukan.


Satu hal yang sampai detik ini, aku masih sulit untuk melakukannya, adalah tetap tersenyum ceria dan bersabar terhadap ujian berat yang terkadang menghampiri. Kalaupun aku harus tersenyum dalam ujian, terpaksa rasanya. Ekspresi wajah dan bawaan emosi tak kunjung kompromi dalam bersandiwara. Kesabaran merupakan salah satu hal yang harus mendapat perhatian khusus dari diri ini. Seringkali Allooh menunjukkan kasih sayangnya dengan mengajarkan aku arti kesabaran. Allooh sangat menginginkan kesabaran ku, jika kesabaran adalah prasyarat untuk mendapatkan RidhoNya. InsyaAllooh akan ku usahakan semaksimal mungkin, walaupun hati ini meronta, hanya air mata lah yang mewakili mulut yang harus terbungkam. 


Wahai Penguasa Alam,,, Tolong pegangi aku, biar aku tak jatuh dalam sumur dosa, yang bermuara pada kemurkaanMu.Teringat dan membayangkan nenek ku bagaimana dia harus melewati cobaan yang rasanya tidak mudah untuk dilalui. Aku harus mampu melewatinya, sebagaimana dulu nenek ku melaluinya.

Aku merindukan perhatian dan perlindungan mu, akan kah kini kau masih mampu merasakan perasaan cucu mu ini? Telah ku coba berperan sebagaimana dirimu dahulu, sebagai pelindung keluarga. Namun tetap aku hanya wanita biasa. Aku tak setangguh dirimu, Aku hanya ingin selalu bersamamu, berbagi ceria dan cerita dibalut kekuatan cinta diantara kita, seperti dulu. Aku tak ingin dewasa, aku tak ingin kehilanganmu, seandainya saja waktu dapat kuhentikan, pasti akan kuhentikan untuk dapat terus bersamamu. Bilakah itu terjadi? 


Rindu ini terasa membuncah, rasanya aku tak mampu menahannya, aku ingin bertemu dan bersamamu lagi, aku sangat ingin kau melindungi ku seperti dulu. Bukan aku tak bersyukur dengan apa yang aku miliki saat ini, namun ketika rindu itu datang, semua terasa tak berarti. Karena apa yang aku miliki saat ini hanyalah buah dari sebuah akar yang tak terlihat, yang tertanam kokoh di dasar tanah, yang selalu memberi nutrisi agar buahnya lebat dan dapat dinikmati banyak orang. Dialah akar kehidupanku, Nenek dan kedua orang tua ku lah yang telah mengantarkan aku hingga seperti ini. Entah berapa besar pengorbanan mereka, berapa banyak peluh yang keluar, berapa berat beban yang telah mereka angkat, berapa hebat mereka menahan emosi dan air mata. Semua itu demi melihat anak keturunannya tidak mengalami nasib pahit yang telah mereka rasakan. 

Robbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa robbaya nishoghiro... Aamiin....

No comments:

Post a Comment