Wednesday, 30 January 2013

Tiket Syurga itu Bernama Suami

Seorang laki-laki diciptakan Allooh sebagai pelindung bagi keluarganya. Di pundaknya tersemat tanggungjawab yang teramat berat. Wajar jika Rosullullooh pernah berucap, jikalau Allooh mengizinkan manusia menyembah manusia, niscaya akan aku perintahkan seorang istri menyembah suaminya. Begitu besar tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh seorang laki-laki.
Suami adalah karunia cinta yang telah dihadiahkan Alloh untuk seorang istri, sekaligus sebagai tiket seorang istri untuk membeli keridhoan Allooh untuk dapat masuk kedalam surganya kelak.

Islam telah mengatur peran suami atau istri dengan sangat sempurna. Adapun pergeseran peran dan posisi antara suami dan istri di zaman ini, tak akan merubah ketentuan yang telah ditetapkan Allooh. Kaum Feminisme sering kali mencari dalih untuk dapat mensejajarkan peran antara laki-laki dan perempuan dengan berbagai macam alasan yang dibuat-buat. Mengapa hal itu bisa terjadi?


Ingat, suami tetaplah manusia biasa yang memiliki keterbatasan, begitupun dengan istri. Terkadang, ada suami yang karena kondisi tertentu, perannya diambil alih oleh istrinya. Memberi nafkah terhadap keluarga misalnya. Pada saat ini, di dunia kapitalis, perempuan dibuat seolah aset yang paling mudah diatur dan dengan daya tarik tersendiri. Sehingga dunia kerja didominasi oleh perempuan. Namun sekali lagi, pergeseran ini tidak lantas merubah posisi istri lebih tinggi dibanding suami. Sebagai istri yang baik, harus memiliki peran untuk dapat mendorongnya, bukan mengambil alih. Walaupun tak akan pernah bisa tanggungjawab seorang suami diambil alih oleh istrinya, begitupun sebaliknya. Jadilah pasangan yang saling melengkapi keterbatasan satu dengan yang lainnya.


Mungkin kita perlu renungkan, mengapa Ridho suami itu adalah syurga bagimu, wahai para istri:
1.    Suami dibesarkan oleh ibu yang mencintainya seumur hidup. Namun ketika dia dewasa, dia memilih mencintaimu yang bahkan belum tentu mencintainya seumur hidupmu, bahkan seringkali rasa cintanya terhadapmu lebih besar daripada rasa cintanya kepada ibunya sendiri


2.    Suamimu dibesarkan sebagai lelaki yang ditanggung nafkahnya oleh ayah dan ibunya hingga ia beranjak dewasa. Namun sebelum ia mampu membalasnya, dia telah bertekat untuk menanggung menafkahimu, perempuan asing yang baru saja dikenalnya dan hanya terkait dengan akad nikah tanpa ikatan rahim seperti ayah dan ibunya


3.    Suamimu ridha menghabiskan waktunya untuk mencukupi kebutuhan anak-anakmu serta dirimu. Padahal dia tau, disisi Allooh, engkau lebih harus dihormati tiga kali lebih besar oleh anak-anakmu dibandingkan dirinya. Namun dia tak pernah sekalipun merasa iri, disebabkan dia mencintaimu dan berharap engkau memang mendapatkan yang lebih baik daripadanya di sisi Allooh


4.    Suamimu berusaha menutupi masaahnya dihadapanmu dan berusaha menyelesaikannya sendiri. Sedangkan engkau, terbiasa mengadukan masalahmu pada dia dengan harapan dia mampu memberi solusi. Padahal bisa saja disaat engkau mengadukan itu, dia sedang memiliki masalah yang lebih besar. Namun tetap masalahmu diutamakan dibandingkan masalah yang dihadapinya sendiri


5.    Suamimu berusaha memahami bahasa dirimu, bahasa tangismu. Sedangkan engkau, kadang hanya mampu memahami bahasa verbalnya saja. Itupun bila dia telah mengulanginya berkali-kali


6.    Bila engkau melakukan maksiat, maka dia akan ikut terseret ke neraka, karena dia ikut bertanggungjawab akan maksiatmu. Namun bila dia bermaksiat, kamu tidak akan pernah dituntut ke neraka. Karena apa yang dilakukan olehnya adalah hal-hal yang harus dipertanggungjawabkannya sendiri.

www.quantum-student.com 


No comments:

Post a Comment