Wednesday, 26 September 2012

Dilema Pengusaha di Zaman Kapitalis

Semaraknya demo karyawan, banyak disikapi berbeda oleh beberapa pihak. Ada yang memanfaatkan untuk menyusupkan ide-ide sosialisme. Ada yang mencoba menengahi dengan menaikkan Upah Minimum dsb. Perbedaaan itu terjadi karena tidak clearnya memandang masalah  demonstrasi karyawan. Sebenarnya apa akar masalahnya?? Karena salah mendefinisakan akar masalah, maka akan  salah pula memberikan treatment atau solusi masalah tersebut.

Mengapa karyawan berdemo menuntut kenaikan gaji atau fasilitas kepada perusahaan tempat mereka bekerja?

Jika ditanyakan, mayoritas mereka akan menjawab, tuntutan keadaan, kondisi ekonomi yang menuntut mereka agar dapat bertahan hidup. Harga barang yang semakin meroket, kesehatan yang semakin mahal, serta pendidikan anak  sekolah yang semakin tak terjangkau.

Mereka (karyawan) bingung harus kemana lagi menuntut, jika tidak ke perusahaan tempat mereka bekerja. Gaji yang mereka terima, seakan tak mampu lagi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Inflasi memaksa mereka mengeluarkan uang lebih, hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Terlebih jika mereka atau keluarga ada yang sakit, atau tuntutan pendidikan yang berasal dari anak mereka.

Akhirnya, mereka menumpahkan masalah kehidupan mereka kepada perusahaan tempat mereka bekerja, tempat mereka menghabiskan sebagian waktunya terhadap perusahaan. Salahkah mereka? TIDAK, mereka tidak bersalah, namun pertanyaannya, apakah perusahaan sepenuhnya bertanggung jawab memenuhi kesejahteraan seluruh karyawan?

Jika diawal kita melihat permasalahan ini dari sudut pandang pihak karyawan. Coba sekarang kita melihat dari sudut pandang perusahaan, bagaimana jika perusahaan tidak mampu memenuhi tuntutan tersebut? Apakah perusahaan harus mengambil kebijakan untuk mengurangi pegawai? Kepada siapa perusahaan dapat menuntut, sekiranya tidak mampu memberikan kesejahteraan pada karyawannya??

Apakah pada negara, yang notabene juga “membebani” perusahaan dengan seperangkat aturan birokrasi yang mencekik arus kas untuk mengurus ini dan itu, hanya untuk bisa leluasa dalam menjalankan usaha. Belum lagi pajak dengan berbagai macam jenisnya, siap menyedot arus kas perusahaan. Akankah negara melindungi pengusaha dari ketidakmampuan menaggung beban yang tidak ringan tersebut?? Apa pula yang akan dilakukan negara, jika perusahaan bangkrut??

Negara TIDAK AKAN PERNAH melindungi siapapun kecuali dirinya dan golongannya sendiri. Padahal, kewajiban negaralah melindungi serta menjamin kesejahteraan rakyat, yang dalam hal ini, pengusaha juga merupakan bagian rakyat yang wajib dilayani. Bukan diperas, juga bukan dijadikan tumbal dalam pengambil-alihan tanggung jawab yang sebenarnya kewajiban negara.


Sebagai seorang pengusaha yang di-"posisi"-kan sulit, tidak lantas larut dan pasrah. Hidup harus diperjuangkan, masa depan harus kita design sesuai yang kita harapkan dimulai saat ini juga. Pro kontra kehidupan akan mewarnai langkah kita. Kreativitas sangat dituntut untukmenyikapi hal ini. Apapun yang terjadi, seperti apapun kehidupan yang tengah kita hadapi. Semoga kita semua mampu keluar sebagai pemenang.

No comments:

Post a Comment