Wednesday, 29 August 2012

Ketika Kemandirian menjadi Langka

“Mama, buatkan aku kue kesukaan ku..”! “Ayah, antar aku ke sekolah.. “!,” Mba, ambilkan seragam ku...”!!, “Bi, ikatkan sepatu ku...”!! “kaka, kerjakan PR aku dong...”

Pernah mendengar teriakan-teriakan semacam demikian? Atau kalimat perintah sejenis yang lain, yang menunjukkan ketidak mandirian seorang anak. Kemanjaan dan sifat kekanakan yang melekat pada diri seorang anak, sesungguhnya bentukan dari lingkungan. Dan terkadang orang tua memiliki andil besar dalam pembentukkan karakter seperti ini.

Orang tua yang over protective menyebabkan anak menjadi ketergantungan kepada siapapun yang ada disekitarnya. Saya faham, mana ada orang tua yang tidak sayang pada anaknya dan selalu berusaha memberikan yang terbaik, yang mampu mereka lakukan. Hanya saja, pertanyaan saya, “sampai berapa lama kita mampu melindungi dan melayani anak kita?”, terbayang kah jika nanti, pada suatu saat nanti kita sudah tidak lagi bersama dengan mereka, kepada siapa mereka akan meminta bantuan?

Mental yang terbentuk kelak, mereka akan menjadi orang yang selalu memposisikan sebagai akibat, dan selalu menyalahkan orang lain (tidak bertanggungjawab).  Bisa dibayangkan jika sifat ini melekat pada diri anak, bahkan sudah menjadi identitasnya (#jangan sampe kejadian). 


Sebelum hal itu sungguh-sungguh terjadi, alangkah bijaknya, kita sebagai orang tua mengkomunikasikan akan gambaran tentang masa depannya dengan baik. Sehingga anak memiliki gambaran yang jelas tentang kemungkinan masa depan yang akan ditemuinya kelak. Disini perlu kunci sukses komunikasi dengan anak. Diharapkan anak akan lebih siap mengantisipasi dan mempersiapkan bekalnya mulai dari saat ini, tentang kemungkinan masa depan yang akan dihadapinya.

Zaman yang akan dilewati sang anak akan jauh berbeda dengan zaman saat ini yang tengah kita jalani. Mereka kelak akan berkompetisi dengan zaman yang berbeda, yang bisa jadi lebih keras. Nasibnya digantungkan kepada orang lain, sebab anak ini tidak akan mampu bertanggung jawab pada dirinya sendiri, dia tidak akan pernah ambil posisi sebagai penyebab, cendrung pasif dan akan menyalahkan keadaan dan orang lain.

Di Quantum Student (QS) kami menterapi masalah kemandirian ini, dengan cara memberikan motivasi, memberi gambaran yang jelas tentang masa depan seperti apa yang kelak mereka hadapi. Ketika siswa memiliki permasalahan tentang pelajaran/tugas yang diberikan sekolah, kami membantu menyelesaikannya tapi tidak mengerjakannya. Memang butuh waktu lama, namun kami mengedepankan bahwa tugas itu adalah tanggungjawabnya, bukan tugas kami yang harus mengerjakannya. Kami pun, cross check kepada orang tua di rumah dengan menanyakan progres terapi ini, InsyaAllooh hasilnya cukup memuaskan. Bahkan ada orang tua yang mengaku, bahwa kini anaknya sudah mau belajar, tanpa orang tuanya memerintah atau bahkan memarahinya.


www.quantum-student.com