Wednesday, 15 August 2012

Antara Benci dan Cinta

Ada siang, ada malam. Ada gelap, ada terang. Ada hitam, ada putih. Ada tua, ada muda. Semua serba berpasangan dengan ciri khas yang berlainan guna saling melengkapi. Begitupun dengan perasaan, ada senang, ada susah. Ada gembira, ada sedih. Ada cinta, ada benci. Khusus yang berkaitan dengan rasa,  sangat relatif, masing-masing orang bisa jadi memiliki presepsi yang berbeda.
Hal ini dikarenakan informasi sebelumnya yang ada pada otak. Jika otak menterjemahkan sesuatu yang negatif, maka respon yang akan muncul adalah perasaan tidak suka serta menolak.

Antara cinta dan benci, memiliki lapisan yang sangat tipis, yang bisa jadi pada saat tertentu rasa cinta mendominasi, sesaat berikutnya juga bisa jadi rasa benci yang merajalela,  hanya dalam waktu yang singat. Pernah mengalaminya?? (*yang mengangguk saya yakin pernah mengalaminya, iyyaa khan...??? ^_^). Nasehat orang dulu sering kita dengar, bahwa jangan terlalu... maksudnya, jangan terlalu membenci atau pun jangan terlalu mencinta, sebab hal itu bisa berubah 180o dalam waktu yang singkat.


Sebenarnya cinta dan benci bukanlah lawan, mereka berkawan, adik kakak. Mereka berasal dari rasa perduli yang begitu besar. Cinta dan benci sama-sama memiliki level
kekuatan energi yang sama, yang apabila diterjemahkan dalam otak, akan lahir reaksi yang berlebih (cinta atau benci) sebagai responnya. Jika demikian, apa dong kebalikannya dari cinta kalau bukan benci? Kebalikannya adalah rasa tidak perduli.


Masih binggung? Gini deh contohnya. Jika di jalan bertemu seorang laki-laki berjalan berdua dengan seorang wanita, yang semuanya tidak anda kenal. Apa reaksinya?? Biasa saja khan?? karena anda sama sekali tidak perduli dengannya. Namun, jika laki-laki tersebut adalah suami anda jalan bersama wanita yang tidak anda kenal sebelumnya, dengan bergandengan tangan mesra, apa reaksi anda?? hehehee langsung boxing :P 

Jika laki-laki pertama, anda berespon biasa saja, itu karena anda tidak cinta. Beda halnya dengan laki-laki kedua, yang merupakan suami yang anda cintai. Reaksi yang terjadi adalah rasa cinta tetiba berubah menjadi benci seketika. betul??

Begitulah cinta dan benci, Jika diterjemahkan oleh masing-masing persepsi manusia, akan sangat berbahaya. Oleh sebab itu Islam mengatur untuk urusan seperti ini. Dalam islam mengajarkan untuk membenci dan mencinta karena Allooh. Sebab hanya Allooh saja yang berhak memutuskan. 

Ajaklah kecendrungan kita untuk selalu taat kepada apa yang sudah Allooh tetapkan, karena hal itu pasti akan memuaskan akal dan menentramkan hati. Contoh kasus, jika anda mencintai lawan jenis yang belum terikat dengan pernikahan, apa yang anda rasakan? Gelisah bukan? Namun, jika mencintai lawan jenis yang sudah dihalalkan karena pernikahan, hati akan terasa tentram. Begitu pun sebaliknya, ketika kita membenci sesuatu harus karena Allooh, bukan berdasar nafsu kita sendiri.
Semoga Allooh senantiasa memudahkan diri kita untuk selalu taat kepada semua ketetapannya.

No comments:

Post a Comment