Wednesday, 4 July 2012

Who loves you?

Adakah seseorang yang rela berkorban untuk melakukan apapun demi kebahagiaan anda?
Adakah seseorang yang dengan tulus memberikan apapun demi sebuah senyum di bibir anda?
Adakah seseorang yang mau dengan ikhlas menyerahkan nyawanya demi menyelamatkan anda?
Adakah seseorang yang dengan setia menunggu keberhasilan anda?

Adakah seseorang yang rela membela, disaat semua orang menentang kita?
Adakah seseorang yang mau menjadi teman pada saat kondisi kita terpuruk?
Adakah orang yang dengan sabar menerima keluhan dan sifat egois kita serta membalasnya dengan cinta?
Siapakah yang sungguh-sungguh mencintai kita tanpa minta pamrih, pada situasi dan kondisi apapun?


Pertanyaan-pertanyaan seperti demikian selalu saya tanyakan dan terus saya ulangi ketika saya sudah jarang mendengar kabar tentang mereka, teringat kata-kata bijak “we are busy growing up, we often forget they(parent) are also growing old”. Dan seketika itu, saya pun tersadar bahwa ada yang lebih penting dari semua itu, yaitu ORANG TUA. Kadang kita lupa, bahwa mereka harus diperhatikan, kita dapat berdiri pada situasi dan kondisi seperti sekarang ini, tidak lain karena hasil jasa mereka.
Ibu saya, sengaja tidak menelepon untuk sekedar menanyakan kabar, khawatir mengganggu kesibukan saya. Pernyataan itu terungkap ketika saya sudah mulai intens berkunjung dan berkomunikasi rutin kembali. Ah... betapa egoisnya saya, bila mengingat dan terjebak dalam aktivitas keseharian. Dimatanya saya tetaplah seorang anak kecil yang membutuhkan pelayanan dan perlindungannya. Tetap menjadi anak kecil kesayangannya. 

Oh... ummi maafkan saya...

Namun terkadang, ummi selalu minta perhatian saya dengan sesuatu yang menurut saya, dapat dilakukan oleh adik atau orang rumah yang lain, mengapa harus saya yang melakukan? Seringkali, saya harus mengunjungi rumahnya untuk melayani apa yang dimintanya. Ketika saya menanggapinya dengan kekanakan karena rutinitas keseharian, ummi malah membatalkannya. Ah... betapa egoisnya saya, sudah mengecewakannya. Padahal jika difikirkan dalam kondisi normal, itu adalah kesempatan saya untuk berbakti padanya. 

Oh... ummi maafkan saya...

Ketika bapak mengalami situasi sulit dalam bisnisnya, beliau hanya terdiam dan berfikir sendiri tanpa membicarakannya dengan siapapun. Kemana saya?? Padahal tiap kali saya berdiskusi tentang bisnis yang saya jalankan, bapak selalu bersemangat memberikan motivasi untuk menguatkan mental saya. Ah... betapa egoisnya saya. Bapak tidak pernah ingin situasi anggota keluarga menjadi tidak menyenangkan. Padahal aku tau persis, dari berat nafas dan gestur tubuhnya yang sedang memikul beban, namun saya tidak dapat melakukan apa-apa. 

Oh... bapak maafkan saya...

Bagaimana saya dapat mengungkapkan, bahwa saya sangat mencintai kalian. Dan ironisnya, terkadang saya sendiri yang sering melupakan mereka. Cinta tidak cukup dengan kata-kata. Cinta butuh pembuktian. Gadis kecil mu ini sering mengecewakan mu, maafkan saya. Hanya doa yang tidak pernah putus ku ucapkan untuk mereka, agar Allooh senantiasa memberikan kesadaran dan kesempatan saya untuk membahagiakan mereka. Aamiin....

www.quantum-student.com


No comments:

Post a Comment