Wednesday, 11 April 2012

Memilih Calon Suami ideal

Seperti apa sih menurut anda suami ideal itu? Apakah yang bentuk tubuhnya macho? Wajahnya yang tampan? Pekerjaannya yang mapan? Saldo rekeningnya yang banyak? Atau yang memiliki “kePRIBADIan”, maksudnya sudah punya rumah pribadi, mobil pribadi mungkin usaha pribadi. Sah-sah saja menurut saya, setiap wanita pasti ingin sebuah kepastian kebahagian.
Pertanyaannya, apakah dengan terpenuhinya semua itu menjadikan seorang wanita bahagia? Belum tentu, sebab kriteria diatas hanya bersifat duniawi saja, sedangkan kita semua tau, hidup di dunia hanya sementara. 

Kemudian timbul kembali kriteria berikutnya, seperti suami yang sholeh, yang mampu menjadi imam keluarga, yang memiliki kesabaran dalam membimbing istrinya, memiliki kejujuran, humoris, romantis dan lain-lain. Sekali lagi itu hak anda untuk menentukan kriteria calon suami ideal seperti itu. Masalahnya, saya jamin laki-laki seperti itu jumlahnya sangat-sangat terbatas, mungkin 1 dari 1.000 laki-laki yang ada di dunia ini (*lebay.com)

Jika seperti itu, sebagian wanita justru memilih kategori pertama atau kedua, yang orientasinya bahagia di dunia atau memilih bahagia di akhirat. Padahal itu bukanlah suatu pilihan, kalo bisa ya.. dua-duanya doong, setuju..? Naif jika mengatakan bahwa yang penting bahagia di akhirat, ‘tak perlu lah bahagia di dunia, toh hidup cuma sebentar’. Bagaimana bahagia di akhirat, dalam perjalanan berumah tangga yang ada emosional sering memuncak, sehingga sensitif akibatnya sering berselisih, hanya karena materi yang tak tercukupi. Yang ada malah menambah dosa karena sering mengabaikan hak dan kewajiban suami istri. 

Disinilah masalahnya, kebanyakan wanita mencari calon suami seperti sebuah paket barang. Ingin instan, ingin langsung mendapatkan kebahagiaan. Padahal, suami idaman juga butuh proses, yang dibantu seseorang istri yang dapat mengarahkan dan mensuportnya agar mampu meraih kesuksesan bersama. Menurut saya, hanya pasangannya sajalah yang mengetahui kekurangan dan kelebihannya, sekalipun jika dibandingkan dengan ibunya sendiri. Karena seorang ibu memiliki keterpautan waktu yang cukup jauh dalam mengerti alur berfikir anaknya yang notabene tingkat pendidikan atau gaya hidupnya berbeda dengan ibunya. Jadilah istri yang cerdas, yang mampu mengakomodir keinginan suami. Nyaman dan nyambung ketika diajak berdiskusi serta kreatif dalam memberi solusi. Sabar mendengarkan keluh kesah dari beban pekerjaannya. Jadilah temannya ketika suami membutuhkan teman.

Lebih bijak, jika para wanita ketika menentukan kriteria calon suami, tanyakan pada dirinya sendiri. “Mampukah saya memberi arahan atau suport untuk laki-laki seperti ini?” Jika mampu, silahkan dilanjut. Jika tidak, ya.. sudah, tinggalkan. Pada intinya tidak ada yang instan, semua butuh proses dan kesabaran. Akan lebih manis kesuksesan yang akan diraih dengan berjuangan bersama, dimulai dari nol. Terimalah pasangan hidup anda apa adanya, baik itu kelebihannya ataupun kekurangannya. Kalo mau kelebihannya saja, kemudian kekurangannya buat siapa doong…? Harus di sadari pula, memangnya ketika menuntut pasangan sempurna, apakah anda juga sempurna… ? ^_^


No comments:

Post a Comment