Wednesday, 30 May 2012

Selamat Tinggal Penjara Suci ku


Sebutlah Putri, seorang santriwati di sebuah pesantren yang cukup ternama. Dia telah menghabiskan masa pendidikannya dari tingkat tsanawiah hingga aliyah di pesantren. Putri tergolong anak yang cerdas dan berparas cantik. Sehingga ia menjadi idola diantara teman-temannya. Dia begitu sopan dan anggun dalam bersikap, sehingga banyak ustazah di pesantrennya menyayangi dia. Sehingga layak disebut santriwati teladan.



Ayah serta bundanya menitipkan Putri di pesantren dengan perjuangan yang sangat berat, karena Putri adalah anak tunggal. Dengan berat hati orang tuanya, khususnya ibu merelakan berpisah dengan anak kesayangannya untuk menuntut ilmu di pesantren. Harapannya hanya satu, kelak Putri dapat menjadi anak yang sholehah yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya. Serta dapat membanggakan orang tuanya jika kelah menjadi mubalighoh ternama.

Entah apa yang salah, setelah lulus dari pesantren, Putri berubah drastis. Bermula Putri memiliki teman dekat laki-laki yang kemudian perlahan tapi pasti status keduanya meningkat menjadi pacaran. Tidak sulit bagi Putri mendapatkan kekasih, disamping wajahnya yang cantik, putri pun sangat baik, polos dan lugu lebih tepatnya. Hal itu dimanfaatkan oleh teman laki-lakinya tersebut, dia memulai pertemanannya dengan putri sebagai seorang teman yang butuh nasehat agama, agar pergaulannya lebih baik. Dengan alasan berdakwah, Putri pun merasa memiliki tanggungjawab untuk membawanya ke jalan yang benar. Alih-alih mau menolong atau berdakwah, Putri justru larut dan terpengaruh dengan pacarnya tersebut. Kerudung serta pakaian yang menutup aurat telah lama ditanggalkan. Putri yang sekarang memiliki cara pandang yang berbeda, punya komunitas teman-teman dengan gaya yang berbeda, khas anak remaja zaman sekarang, jauh dari nilai-nilai agama.

Jika dulu, meninggalkan sholat saja, putri merasa sangat bersalah dan berdosa. Kini hal itu menjadi biasa dia lakukan, tanpa rasa berdosa. Jika dulu ketika pamit keluar rumah mencium tangan kedua orang tuanya, kini mengucapkan salam pun sudah tidak terdengar lagi. Bukan dibiarkan begitu saja perubahan ini terjadi, orang tuanya sering menginggatkan dia atas sikapnya yang telah berubah ini. Namun apa balasannya, Putri malah lebih marah dan mengeluarkan intonasi suara bak hidup di hutan saja. Kata-kata yang keluarpun sangat kasar, sama sekali tidak mencerminkan prilaku alumni pesantrenan.Tidak jarang air mata ibundanya pun menetes, seketika mendengan ucapan Putri. Orang tuanya tidak berdaya lagi, mereka pasrah, dan hanya bisa berdoa saja.

Hancur semua cita-cita orang tua Putri, harapan mereka hampa. Mereka sangat kecewa melihat perubahan anak kebanggaannya. Orang tua putri sering berdiskusi mengapa hal ini bisa terjadi, padahal notabene, Putri sama sekali tidak kekurangan ilmu agama, mengapa sepertinya ilmu agamayang telah dipelajarinya hilang tak bersisa, Apa yang harus mereka lakukan untuk mengembalikan Putri yang dulu. Pergaulan atau pengaruh lingkungan memang berperan besar, namun jika bekal ilmu agamanya lebih besar, InsyaAllooh akan baik-baik saja. Mungkinkah ada yang keliru dalam pola pendidikan di pesantren? Lingkungan di pesantren memang dikondisikan berdisiplin yang tinggi, ditegakkan dengan sangsi yang sangat ketat bagi yang melanggar. Seolah-olah mereka tidak memiliki kebebasan.

Pelajaran agama yang diberikan pun hampir sama dengan pelajaran umum lainnya, hanya sekedar transfer informasi, (*maaf jika saya salah menilai) tidak mampu menggerakkan dirinya untuk berfikir dan menerapkaanya sebagai konsekwensi keimanan mereka. Jikapun mereka rajin menjalani ritual yang biasa dilakukan di pesantren, itupun hanya sebatas takut di beri sangsi. Tidak ada kesadaran dari dalam dirinya bahwa hal tersebut merupakan perintah dari yang menciptakan dia, Allooh SWT.

Aqidah seseorang dapat dikatakan kuat, apabila mampu menggerakkan dirinya untuk menjalankan semua yang diperintahkanNya, serta menjauhi laranganNya. Tanpa kompromi, dimanapun dan kapanpun. Karena hal itu merupakan konsekwensi diri terhadap keimanannya. Aqidah yang kuat tersebut mau tidak mau harus didapat melalui proses berfikir, tidak hanya sekedar transfer ilmu.
Walloohu a’lam bis-shoab

No comments:

Post a Comment