Wednesday, 16 May 2012

Kemuliaan Wanita

Maraknya opini tentang kesetaraan gender makin menghangat. Perempuan saat ini perlu dibela, karena belum diberikan kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam berbagai macam hal. Perempuan selalu menjadi kaum yang tertindas, selalu dinomor duakan, ajang ekspolitasi dan sebagainya.
Begitulah kurang lebih tuntutan dari aktivis gender dalam upayanya “membela” hak-hak perempuan. 

Dari situasi semacam itu, muncullah ide untuk menyamakan hak dan kewajiban dengan laki-laki. Misal, dalam hak waris, aktivis ini menginginkan bagian laki-laki sama dengan bagian wanita, mereka menentang bagian laki-laki yang lebih banyak, sebab menurut mereka zaman sekarang, wanita pun bertanggung jawab memberi nafkah keluarga sama dengan laki-laki. Mengapa dalam hak waris harus dibedakan? Itu salah satu tuntutan mereka, yang menimbulkan pro-kontra diantara anggota dewan.

Mereka pun menuntut untuk diberikan keluasaan untuk mengekspresikan diri untuk mengejar karier tertinggi, mereka tidak ingin dibedakan dengan laki-laki dalam menjabat pimpinan tertentu. Mereka ingin mengatualisasikan pendidikan tinggi yang telah kaum wanita jalani di sektor publik. Mereka tidak ingin dengan gelar/titel tinggi yang mereka miliki hanya berakhir di rumah saja, seputar dapur, kamar dan sumur. “Jika berakhir di rumah saja, untuk apa bersekolah tinggi-tinggi, dengan mengorbankan biaya, waktu dan tenaga yang besar?” itu salah satu argumen mereka. Untuk urusan rumah mereka delegasikan kepada pembantu, untuk urusan merawat anak, mereka cukup menggaji baby sitter atau nanny. Intinya mereka tidak ingin diberatkan oleh urusan di dalam rumah, mereka ingin bebas berekspresi di luar rumah.

Sepintas, seolah-olah tuntutan itu memang benar dan wajar, bahwa perempuan berhak mendapatkan semua itu, namun apa memang benar demikian… ? Benar menurut siapa… ? bukankah kebenaran itu bersifat relatif jika dibiarkan menurut kacamata manusia. Bisa jadi menurut saya benar, tidak menurut anda, sepakat… ? Marilah kita menggunakan kebenaran dengan kacamata islam yang mengatur hidup kita. 
Dalam islam wanita sangat dihormati, wanita memiliki peran yang besar, banyak kisah yang telah tertulis bagaimana islam menggangkat derajat kaum wanita menjadi lebih terhormat, Alloh SWT menciptakan makhluk manusia dengan berpasangan, ada laki-laki dan perempuan, yang masing-masing berbeda dari segi bentuk fisik, peran dan fungsinya. Allooh maha tau, apa yang diciptakannya, kelebihan dan kekurangannya hanya Allooh yang tau persis. 

Oleh sebab itu, aturan yang telah Allooh turunkan pun, yakinlah itulah yang terbaik. Seorang yang menciptakan televisi pun tau apa yang terbaik untuk keberlangsungan televisi ciptaannya. Misalnya, dalam hand book televisi, di peringatkan agar tidak menaruh televisi dekat sumber api (kompor), jika peringatan ini dialnggar, maka apa yang akan terjadi… ? televisi akan segera panas dan bisa jadi akan meledak dan membakar seluruh rumah. Jadi yang tau persis yang terbaik untuk ciptaannya hanyalah pencipta itu sendiri. 

Dari sini dapat kita garis bawahi hanya aturan Allooh lah yang terbaik untuk keberlangsungan hidup manusian, jika tidak ingin rusak. Dalam hal ini Allooh telah mengatur pola hubungan antara laki-laki dan perempuan dari hak, kewajiban, peran, dan fungsinya. Setuju…. ?
Tugas utama perempuan sebagai ibu dan mengatur urusan rumah tangga yang ada di dalam rumah, jika ingin beraktivitas diluar, dipersilahkan, hanya saja harus dipastikan tugas utamanya tidak diabaikan. Islam juga mewajibkan perempuan untuk menuntut ilmu, walaupun aplikasinya nanti bukan untuk berkarir diluar rumah tanpa batas. Allooh mencintai hambanya yang cerdas dan kuat, tidak manja dan cengeng. 

Ilmu yang telah didapat nanti dapat diaplikasikan untuk mengoptimalkan peran perempuan untuk mencetak gererasi yang kuat dalam berkarakter, dan menjadi pemimpin umat. Bagaimana jadinya generasi penerus jika para ibu dan istrinya bodoh serta ketinggalan jaman… ? Duuhh..!! jangankan mencetak pemimpin handal, ditanya oleh anak hal-hal sepele pun tidak dapat menjawab. Jadi walaupun perempuan tidak dapat menjadi pemimpin dalam suatu tingkatan tertentu, namun perempuan mampu melahirkan dan mencetak pemimpin itu. Hayoo… keren mana, jadi pemimpin atau pencetak pemimpin… ? hehehe… (*salah satu alasan saya untuk melabeli diri sebagai: THE LEADER CREATOR).

No comments:

Post a Comment