Wednesday, 9 May 2012

Kunci Sukses Komunikasi dengan Anak

Dewasa ini, sangat banyak berita yang menceritakan kelakuan anak-anak zaman sekarang yang sudah tidak lagi memperdulikan penghormatan kepada orang tuanya. Bagi mereka, urusan anak bukan urusan orang tua dan sebaliknya. Proses tumbuh kembang anak sudah tidak terkendalikan lagi.
Pergaulan bebas dan tawuran semakin marak, bahkan konon sudah menyentuh level tingkat SD. Pemakaian obat-obat terlarang, kaidah-kaidah moral sudah tidak diperdulikan lagi oleh anak-anak.

Namun di sisi lain, tak dapat dipungkiri bahwa anak-anaklah yang akan menjadi penerus generasi, yang jika dibiarkan, tidak dibina dan dipupuk sejak dini, dapat diprediksi kemana nasib akan membawanya kelak… ?
Tayangan televisi yang mengangkat kisah nyata(realitas) yang tidak baik, terkesan memberikan pelajaran “buruk” kepada pemirsanya, temasuk anak kita. Hal itu disebabkan, banyaknya tayangan-tayangan yang mempertontonkan perbuatan kurang ajar kepada orang tua. lengkap dengan variasi bentuk “makian”, “bentakan”, dan “kata-kata kotor” sudah menjadi hal yang biasa yang diucapkan oleh seorang anak kepada orang tuanya.

Belum lagi sifat manja dan ketergantungan kepada orang lain, juga semakin subur dikalangan remaja, sehingga menjadi budaya baru bagi mereka. Mendapatkan sesuatu yang diinginkan dengan memerintah seenaknya, bisa kepada pembantu, kepada teman bahkan kepada orang tua. Remaja saat ini tumbuh menjadi anak manja, tidak mandiri. Mereka malas untuk melakukan sesuatu, ingin instan serta tak mau repot. Intinya mereka harus mendapatkan apa yang mereka mau dengan cepat dan mudah tanpa memperdulikan apapun, mereka egois. Bagaimana mungkin kelak mereka mampu berkompetisi dengan sehat, jika karakter yang terbentuk seperti itu… ?

Sedangkan orang tua, Mereka bingung harus melakukan apa untuk keluar dari situasi macam ini. Setiap sikap, tingkah laku, dan kepribadian kedua orang tua sering tidak bisa dijadikan panutan bagi anak-anaknya. Terkadang, pikiran, tindakan dan sikap orang tua bertentangan dengan anaknya. Anak-anak meresa lebih nyaman untuk curhat  kepada temannya daripada terhadap kedua orang tuanya. Ada dinding tebal yang memisahkan mereka, padahal curhat kepada teman sangat beresiko, syukur jika saran yang diberikan benar, jika salah, anak kita akan makin terjerumus lagi kedalam pergaulan yang tak bertanggung jawab terhadap masa depannya kelak.

Sebenarnya, semua itu dapat disikapi secara bijaksana dengan membangun komunikasi yang baik. Komunikasi yang mampu menembus fikiran bawah sadar anak, sehingga sifatnya long term memory (jangka panjang). Dengan komunikasi seperti ini, anak-anak akan mampu memahami maksud dan keinginan orang tua. Komunikasi merupakan kunci sukses hubungan antara orang tua dan anak-anak. Bentuk kasih sayang, seperti pelukan, ciuman, sentuhan, dan semacamnya merupakan bentuk komunikasi dari “pikiran bawah sadar”. Dengan demikian, sampai kapan pun, komunikasi “kasih sayang” ini akan terus berlangsung sampai kapan pun, tanpa ada rasa malu, terganggu dan semacamnya daei sang anak. Komunikasi semacam ini harus memperhatikan beberapa faktor berikut, diantaranya:

  • Mudah difahami
Usahakan antara ucapan, intonasi suara dan bahasa tubuh selaras. Misal ketika mengucapkan kata sayang, senyuman dan raut wajah anda harus mendukung apa yang sedang anda ucapkan. Jika tidak, anak akan memahaminya sebagai kepura-puraan belaka.
  • Menarik perhatian
Ketika memerintahkan sesuatu, libatkan anak dengan melakukan pekerjaan bersama atau ajak mereka ke tempat-tempat yang menarik perhatian anak, ajak mereka bereksperimen. Misal, menyuruh anak untuk sholat, ajak dia untuk ikut sholat berjamaah di rumah atau mengajaknya ke mesjid atau mushola terdekat. Pancing emosinya untuk menikmati sensasi pada saat mengerjakannya.
  • Pahami sensitivitas anak
Jika memerintahkan sesuatu lihat situasi kondisi sang anak. Jangan memerintahkan sesuatu disaat anak dalam keadaan tidak siap untuk melakukan, dalam hal ini anda lebih tau. Jika anda memaksakan, maka anak akan tetap melakukan , hanya saja anda akan dinilai sebagai orang tua yang diktator.
  • Gaya penyampaian
Komunikasikan sesuatu terhadap anak sesuai dengan usianya, sebab gaya bahasa yang kurang pas tidak akan dimengerti oleh anak, dan hal ini akan sia-sia.

Singkat kata, berkomunikasilah dengan anak, layaknya seorang sahabat, dengan atmosfer saling menghargai satu sama lain, saling terbuka dan saling mengisi satu sama lain.

No comments:

Post a Comment