Wednesday, 11 July 2012

Aku adalah sosok ayahku

Sudah lama rasanya tidak berdua dengan ayahku di dalam mobil. Dulu ketika aku kecil, aku selalu diantar ayahku ke sekolah dengan mobil pick up tua miliknya, yang sering kali mogok di pagi hari tatkala mesin mulai dihidupkan. Sampai beberapa tetanggaku bersepakat untuk tidak keluar rumah jika pagi hari, khawatir dimintai pertolongan untuk
mendorong mobil. Hehehe…


Namun aku sama sekali tidak malu, karena selalu diantar ayah dengan mobil tuanya. Seiring waktu beberapa kali ayahku ganti mobil, tetapi tetap pada edisi yang sama, mobil pick-up, malah pernah aku diantar ke sekolah dengan menggunakan truk. Suatu ketika, niatku bersekolah berubah arah, dikarenakan ayahku mendapat orderan barang yang harus diambil ke tempat pelanggan ayah. 

Ayahku mengajukan usul, untuk bolos sekolah dan memilih ambil barang. Pada saat itu aku sih setuju-setuju saja, senang malah. Namun ayahku berpesan untuk tidak mengatakan kejadian ini kepada ibuku, aku hanya tersenyum sambil menggangguk dan memberikan jempol ku tanda setuju. Itu salah satu rahasia kecil aku dan ayah pada saat itu. Hihihi…

Aktivitas antar-mengantar sekolah hingga aku lulus SMA, cukup lama, sebenarnya aku bisa naik kendaraan umum, namun ayahku bersikeras ingin mengantarkan aku, ayahku memang hobby mengantarkan aku, mengantar aku sekolah. mengantar aku kepintu gerbang kesuksesan.
Alhamdulillah, aku bersyukur memiliki ayah seperti dia. Ayahku sangat sederhana, cendrung pendiam dan sangat sabar, lebih tepatnya ulet. 

Namun wataknya sangat keras. Dia selalu berpesan, untuk jangan pernah berharap sesuatu dari orang lain, mintalah hanya pada ayah, kalaupun ayahku belum bisa memenuhi keinginan ku, mintalah pada Allooh SWT, agar ayahku diberikan kemampuan untuk ayah dapat memenuhi keinginanku. Mungkin pesan itulah yang membuat aku relatif jarang meminta sesuatu kepadanya, karena aku sayang dia, aku tak ingin menambah beban fikirannya. Untuk hal ini, ibu ku lah yang memahami kebutuhan aku, ibu dapat mengerti dan memenuhi apa yang aku butuhkan tanpa harus aku meminta.

Dia selalu ingin mengantar aku ke sekolah, mungkin menurut cerita ibuku, aku dilahirkan pada saat ayahku di luar negeri, ayah menjadi pelayar saat itu. Pulang ke rumah hanya satu tahun sekali, itupun tidak lama, kurang dari dua minggu dia harus kembali lagi berlayar. Pekerjaan ini di tinggalkannya ketika aku kelas 2 SD. Semenjak itu di sering menghabiskan waktu untuk mengantar aku kesekolah. Mungkin untuk mengganti kebersamaan yang telah dia lewati. 

Percakapan yang terjadi dalam mobil pada saat mengantarkan aku seolah menjadi sugesti yang terekam kuat dalam alam bawah sadar ku, sebab kejadian itu terjadi hampir setiap hari dan terus berulang dalam jamgka waktu yang lama, topik pembahasanya pun seputar laki-laki, dari kewajiban menafkahi keluarga, melindungi, memimpin, harga diri dan perjuangan hidup seorang laki-laki. Aneh memang, mengapa ayah senang membahas masalah tersebut dengan aku, yang notabene seorang anak perempuan. Dia sangat membenci seorang laki-laki yang tidak mampu menjalankan kewajibannya, dia sering melabeli orang yang seperti itu dengan sebutan “laki-laki tidak becus”. 

Baru kini ku menyadari, mungkin itulah yang dimaksud “strong why” buat dirinya, bahwa dia harus menjadi apa yang diucapkan kepadaku. Dia tidak ingin melihat anak perempuannya direndahkan hanya karena tidak memiliki ilmu dan harta benda. Sekali lagi, percakapan itu sangat membekas pada diriku, tanpa terasa akupun mengidolakan ayahku. Aku berjanji saat itu bahwa aku akan selalu berusaha mengukir senyum diwajahnya, senyum karena telah berhasil mendidik aku. 

Aku tidak pernah dimanja oleh ayah dengan belaian, pelukan atau sekedar kata manis yang biasa terucap untuk seorang anak perempuan. Dia memperlakukan aku layaknya seorang anak laki-laki yang tidak boleh cengeng dan harus bertanggung jawab. Aku yang hoby menangis saat itu, tiap kali melihat ayahku datang, segera ku hentikan tangisan itu. Sehingga entah mengapa, akhirnya akupun risih jika melihat anak perempuan yang manja.  

 Ketika kuliah aku lebih memilih mengambil jurusan tehnik, dimana komunitas laki-laki lebih banyak daripada perempuannya. Semenjak aku dibangku SMP, aku sudah membantu ayahku berdagang selepas pulang sekolah atau pada saat libur, aku selalu dilibatkan. Ketika ayahku harus keluar rumah pun aku mampu menggantikannya untuk melayani pelanggan ayah yang ingin mengirum barang. Oh iya, ayahku memiliki sebuah lapak yang khusus menampung/membeli logam seperti tembaga, alumunium dan kuningan untuk di kirim ke pabrik untuk diolah kembali. 

Dapat dibayangkan, berapa harga logam-logam tersebut jika dikonversikan kedalam rupiah. Bayangkan berapa uang yang harus aku berikan kepada pelanggan ayah yang mengirim barang dalam jumlah besar, dengan cash, TUNAI… Namun, ia percaya bahwa aku mampu melakukannya. Aku sangat mahir menghitung uang dalam jumlah besar, gaya pegawai bank, walaupun jari-jariku masih kecil pada saat itu. 

Keadaan berubah, kini ayahku tidak lagi muda, tidak lagi keras seperti dulu. Kulihat tangan yang memegang stir mobil kini terlihat kendur dari kejauhan. Pengelihatannya tak setajam dulu, sebenarnya aku sudah menawarkan diri untuk mengemudikan mobil, namun ia melarangku, masih saja dia memperlihatkan rasa ingin melayaniku, seperti waktu dulu. 

Aku terus memandanginya tanpa sepengetahuannya. Rasanya ingin kupeluk dia, namun hal itu tidak mungkin aku lakukan, ayahku begitu kaku, dan mungkin canggung untuk melakukannya. Tidak masalah bagiku, karena ku tahu ayahku sangat mencintaiku dengan cara yang lain. Bukan kesusahan hidupnya yang ayahku takutkan, tapi ayah akan merasa takut, jika melihat aku (anaknya) menderita. Apapun akan ia lakukan. Sungguh, aku tak akan pernah mungkin membalas semua yang telah kau berikan untuk ku.

Normalnya seorang ayah yang memiliki anak perempuan. Tugas dan tanggung jawabnya akan selesai, manakala anak perempuannya menikah. Tidak untuk ayahku, ayahku bukan lah laki-laki pada umumnya. Ia adalah seorang ayah yang istimewa. Di saat, ayah yang lain menikmati masa tuanya dengan bebas, melepaskan tanggung jawab putrinya kepada suaminya. Ayahku, justru memastikan, mampu kah menantunya membahagiakan putri yang sangat ia cintai.

Maafkan aku ayah, yang terkadang mengecewakanmu, karena sikap keras kita berdua, karena perbedaan pandangan yang mungkin terjadi diantara kita, dalam memegang prinsip yang kita yakini. Percayakah engkau ayah, di dalam diriku ada sosok dirimu. Aku adalah bentuk lain dari dirimu. Jauh daripada itu semua, aku sangat mencintaimu, aku sangat menghormatimu.
Ayah adalah sumber inspirasiku, ayah adalah pelindungku, ayah adalah matahariku, yang mampu memberi kekuatan.

“Jika engkau bisa, aku pun pasti bisa”
“Jika engkau berhasil, akupun pasti berhasil”

No comments:

Post a Comment