Wednesday, 18 April 2012

Belajar Mandiri Dari Seekor Bayi Kupu-Kupu

Pada suatu cerita, ada seorang pemuda yang baik hati sedang berada di sebuah taman, sedang duduk santai di bawah sebuah pohon yang rindang. Tanpa sengaja matanya tertuju pada sebuah kepompong yang siap ‘mengeluarkan’ bayi kupu-kupu cantik. Diamatinya dengan seksama proses keluarnya sang bayi kupu-kupu tersebut. Menit demi menit dia tunggu dengan rasa penasaran, untuk menyaksikan betapa indahnya sayap bayi kupu-kupu tersebut, namun yang diharapkan tak kunjung keluar.
Begitu sulit rupanya sang bayi kupu-kupu tersebut melepaskan diri dari kepompong yang dibuat sedemikian kuat untuk melindungi dirinya selama “pertapaannya” dari seekor ulat yang kelak menjelma menjadi kupu-kupu yang mampu terbang. Bayi kupu-kupu itu begitu kecil, rasanya tenaganya pun tak mampu melepaskan dirinya dari kepompong. Tergeraklah pemuda yang baik hati tersebut untuk membantu bayi kupu-kupu, ia tidak tega melihat perjuangan sang bayi yang tak kunjung membuahkan hasil.

Singkat cerita sang pemuda pulang ke rumahnya untuk membawa gunting, agar mampu menolong bayi kupu-kupu. Di guntinglah kepompong yang menjerat sang bayi dengan sangat hati-hati sekali. Akhirnya keluarlah bayi kupu-kupu tersebut. Pemuda itu sangat senang, melihat indahnya sayap bayi kupu-kupu tersebut. Ia letakkan di telapak tangannya, ia ingin melihat bayi kupu-kupu tersebut terbang bebas di taman yang begitu indah. Namun sekali lagi sang pemuda kecewa, bayi kupu-kupu tersebut tak mampu mengepakkan sayapnya. Sehingga tak mampu terbang. Sampai beberapa jam bayi kupu-kupu tersebut bertahan dan  mencoba terbang, namun tak kunjung berhasil dan akhirnya kupu-kupu tersebut mati. Karena tak mampu beradaptasi dengan dunia barunya.

Selang beberapa waktu, akhirnya pemuda tersebut mengetahui bahwa dalam proses “perjuangan” seekor kupu-kupu yang ingin melepaskan diri dari kepompongnya. Bayi kupu-kupu mengeluarkan semacam cairan yang mengalir pada bagian sayap yang kelak menjadikan sayap itu berfungsi untuk terbang. Subhanallooh, Maha Besar Allooh yang telah mendisign segalanya dengan sangat sempurna. Namun apa yang terjadi dengan bayi kupu-kupu yang “ditolong” pemuda tersebut tempo hari… ? yup, benar bayi kupu-kupu tersebut tidak mengalami proses yang harusnya dia lalui, proses keluarnya dibantu, sehingga tidak alami. Bayi kupu-kupu tersebut tidak maksimal mengerahkan tenaganya untuk keluar, sehingga cairannya tak mampu keluar dari tubuhnya, yang seharusnya mampu mengalir ke bagian sayap sehingga bayi kupu-kupu tersebut dapat terbang.

Jika seandainya saya boleh menganalogikan, bayi kupu-kupu sebagai anak kita, dan pemuda yang baik hati adalah orang tua yang sangat mencintai anaknya. Apa yang terjadi… ? salah kah orang tua yang selalu memberikan kemudahan untuk anaknya… ? tidak ada yang salah ketika orang tua memberikan kemudahan untuk anak yang dicintainya, karena itu memang naluri yang diberikan Allooh untuk sayang terhadap anak. Namun, berapa lama orang tua mampu melindungi dan terus memberi kemudahan untuk anak yang dicintainya… ?  Terbayang kah apa jadinya ketika orang tua sudah tidak ada, sedangkan anak yang selalu kita lindungi tidak mampu melindungi dirinya sendiri… ? Dia tak akan mampu beradaptasi, karena tidak ada lagi orang yang mampu melindunginya, dan dia sendiri pun tak tau apa yang harus dia lakukan. Karena dulu orang tuanya tak mengajarkan bagaimana caranya bertahan hidup.

Orang tua yang sayang kepada anaknya bukan berarti yang selalu mencukupi dan melindungi anaknya secara berlebih. Juga bukan orang tua yang membiarkan anaknya begitu saja tanpa di didik. Orang tua bijak adalah orang tua yang mampu memberikan dan menyiapkan bekal anak untuk dapat hidup MANDIRI di zamannya kelak. Memberi kasih sayang yang cukup sesuai porsinya.

No comments:

Post a Comment