Wednesday, 29 May 2013

Percaya Diri Semu

Pagi itu Shella begitu murung, nampak wajahnya lusu tak bergairah. Dialog mamah di pagi itu dijawab sekenanya. Sama sekali berbeda dengan biasanya, wajahnya yang cantik dan sikapnya yang manja bak ditelan bumi. Keceriaannya
terampas, seiring dengan dirampasnya sebuah gadget kebanggaannya. Ya... tiga hari yang lalu mamah merampas
smart phone miliknya, memang sih diganti dengan Hand Phone yang lain, "tapi stupid, sama sekali tidak smart" begitu respon Shella. Hand Phone yang dikatakan stupid oleh Shella, yaitu HP yang hanya bisa telepon dan SMS saja, bahkan kamera pun tak ada.

Shella malu dan minder dengan teman-temannya yang lain, Shella tidak memiliki apa yang temannya miliki. Bukan tanpa alasan mamah merampas gadget Shella, beberapa waktu lalu mamah secara tidak sengaja membuka gadget milik Shella dan melihat koleksi video-video yang belum pantas Shella lihat. Setelah diintrogasi panjang lebar, akhirnya papah dan mamah sepakat merampas gadget itu dan menggantinya dengan yang lebih sederhana.

Namun, orang tua Shella tak pernah menyangka, dampak dirampasnya gadget tersebut. Kepercayaan diri Shella merosot tajam, dia kini cendrung menarik diri, pendiam, dan murung. Ternyata kepercayaan diri yang selama ini dimiliki Shella, hanya karena fasilitas yang dimiliki kedua orang tuanya yang cukup mampu. Shella selalu mendapatkan apa yang dia mau dari kedua orang tuanya. Dan memamerkannya kepada teman-temannya, rasa kagum dan iri dari teman-temannyalah yang membuat Shella merasa lebih, malah terkadang sombong. Hanya itu komponen yang membangun kepercayaan dirinya. Bukan berasal dari dalam dirinya.

Fenomena Kepercayaan diri Shella, ternyata dimiliki sebagian besar remaja kita saat ini. Kepercayaan diri yang semu, kepercayaan diri yang rapuh dan tak nyata. Terkadang rasa cinta dan kasih sayang yang berlebih tanpa ada aturan dan ketegasan, dari orang tua kepada anaknya. Bukannya membangun, justru menghancurkan kemandirian mereka. Bagaimana bisa mandiri, mempercayai dirinya sendiri saja sudah bermasalah.Terbukti ketika kemandirian menjadi langka

Didiklah mental anak kita menjadi tangguh, fokuskanlah terhadap kelebihan dalam dirinya. Biarkan kelebihan itu bersinar, sehingga anak menjadi istimewa di bidang yang memang disukainya. Sebagai orang tua dan guru tugas kita adalah menjadi sahabat terbaiknya, yang mampu menggali menemukan potensi terpendamnya, arahkan dan kembangkanlah. Mari bersama, selamatkan generasi.... !!!


No comments:

Post a Comment